Jumat, 03 September 2010

Pelajaran Hidup Dari Batu Rubi yang Pecah

Alkisah, di sebuah kerajaan, raja memiliki sebuah batu rubi yang sangat indah. Raja sangat menyayangi, mengaguminya, dan berpuas hati karena merasa memiliki sesuatu yang indah dan berharga. Saat permaisuri akan melangsungkan ulang tahunnya, raja ingin memberikan hadiah batu rubi itu kepada istri tercintanya. Tetapi saat batu itu dikeluarkan dari tempat penyimpanan, terjadi kecelakaan sehingga batu itu terjatuh dan tergores retak cukup dalam.
Raja sangat kecewa dan bersedih. Dipanggillah para ahli batu-batu berharga untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Beberapa ahli permata telah datang ke kerajaan, tetapi mereka menyatakan tidak sanggup memperbaiki batu berharga tersebut.
“Mohon ampun, Baginda. Goresan retak di batu ini tidak mungkin bisa diperbaiki. Kami tidak sanggup mengembalikannya seperti keadaan semula.”
Kemudian sang baginda memutuskan mengadakan sayembara, mengundang seluruh ahli permata di negeri itu yang mungkin waktu itu terlewatkan.

Tidak lama kemudian datanglah ke istana seorang setengah tua berbadan bongkok dan berbaju lusuh, mengaku sebagai ahli permata. Melihat penampilannya yang tidak meyakinkan, para prajurit menertawakan dia dan berusaha mengusirnya. Mendengar keributan, sang raja memerintahkan untuk menghadap.
“Ampun Baginda. Mendengar kesedihan Baginda karena kerusakan batu rubi kesayangan Baginda, perkenankanlah hamba untuk melihat dan mencoba memperbaikinya. ”
“Baiklah, niat baikmu aku kabulkan,” kata baginda sambil memberikan batu tersebut.
Setelah melihat dengan seksama, sambil menghela napas, si tamu berkata, “Saya tidak bisa mengembalikan batu ini seperti keadaan semula, tetapi bila diperkenankan, saya akan membuat batu rubi retak ini menjadi lebih indah.”
Walaupun sang raja meragukan, tetapi karena putus asa tidak ada yang bisa dilakukan lagi dengan batu rubi itu, raja akhirnya setuju. Maka, ahli permata itupun mulai memotong dan menggosok.
Beberapa hari kemudian, dia menghadap raja. Dan ternyata batu permata rubi yang retak telah dia pahat menjadi bunga mawar yang sangat indah. Baginda sangat gembira, “Terima kasih rakyatku. Bunga mawar adalah bunga kesukaan permaisuri, sungguh cocok sebagai hadiah.”
Si ahli permata pun pulang dengan gembira. Bukan karena besarnya hadiah yang dia terima, tetapi lebih dari itu. Karena dia telah membuat raja yang dicintainya berbahagia.
Di tangan seorang yang ahli, benda cacat bisa diubah menjadi lebih indah dengan cara menambah nilai lebih yang diciptakannya. Apalagi mengerjakannya dengan penuh ketulusan dan perasaan cinta untuk membahagiakan orang lain.
TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA DI DUNIA INI
Saya kira demikian pula bagi manusia, tidak ada yang sempurna, selalu ada kelemahan besar ataupun kecil. Tetapi jika kita memiliki kesadaran dan tekad untuk mengubahnya, maka kita bisa mengurangi kelemahan-kelemahan yang ada sekaligus mengembangkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki sehingga keahlian dan karakter positif akan terbangun.
Dengan terciptanya perubahan-perubahan positif tentu itu merupakan kekuatan pendorong yang akan membawa kita pada kehidupan yang lebih sukses dan bernilai!
Semoga bermanfaat dan menyadarkan kita semua untuk selalu melakukan segala sesuatu dengan tulus dan berusaha membahagiakan orang lain.

Pengusaha Dan Mobil Mewah

Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise.
Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.

“Buk….!” Aah…, ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.
“Cittt….” ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa.
Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir. “Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. “Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya.” Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.
Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.” Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.
“Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….” Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..” Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.
“Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya.”
Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah.
Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.
“Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak.”
Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Dtelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores itu oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya.
Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini.
Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”
Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan.
Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?
Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya.
Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas. Teman, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak.
Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

Sebuah Renungan Singkat

Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankan untuk menggugurkan kandungannya?
Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh satu komponis masyhur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.
dan…..
Sekarang adalah waktunya untuk memilih seorang pemimpin dunia dan keputusan anda berpengaruh besar terhadap siapa yang akan menjadi pemenang. Berikut adalah fakta mengenai ketiga calon tersebut:
Calon A: dihubung-hubungkan dengan politisi jahat dan sering berkonsultasi dengan astrologis, punya dua istri muda, dia juga seorang perokok berat dan minum 8-10 botol martini setiap harinya.
Calon B: dipecat dua kali dari kantor, selalu bangun sore hari, pernah menggunakan narkoba waktu kuliah dan minum wiski tiap sore.
Calon C: dianggap pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, tidak pernah berselingkuh di luar perkawinannya.
Siapa di antara ketiga calon ini yang akan anda pilih? Anda mungkin tidak akan menduga siapa sebenarnya calon-calon ini:
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>















Calon A adalah Franklin D. Roosevelt
Calon B adalah Winston Churchill
Calon C adalah Adolf Hitler
Sekali lagi sejarah mengajarkan untuk tidak menilai orang dari penampilan.
Refleksi :
Kita tidak selalu tahu apa yang sedang dan masih mungkin terjadi di dalam hati seseorang. Di sanalah (di dalam hati), perjalanan yang sesungguhnya sedang terjadi. Selama kita belum bisa melihat ke dalam hati seseorang dan belum bisa mengikuti proses-proses yang masih berlangsung di dalamnya (dan memang tidak akan pernah bisa), maka sebenarnya selama itulah kita tidak mempunyai hak apapun untuk menghakimi sesama kita.
Mungkin baik bagi kita membiasakan diri untuk melihat secara imajiner, bahwa di dada setiap orang terpampang sebuah kalimat “Tuhan belum selesai dengan saya”

Tanpa Kebencian Pada Siapapun

''Kemerdekaan menuntut kewaspadaan dan kesetiaan selamanya.''
~ Abraham Lincoln

Siapa yang tidak mengetahui setidaknya sedikit saja tentang Abraham Lincoln? Dari cerita tentang Lincoln-lah saya mendengar istilah 'Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun'.

Tentu saya cukup sering mendengar yang seperti itu dari khotbah-khotbah di tempat-tempat ibadah, di radio, bahkan di televisi. Tapi apakah yang berkhotbah melakukan seperti yang dikatakannya? Semoga!

Tapi khusus tentang 'Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun', setahu yang saya baca, Abraham Lincoln melakukannya. Karena itulah mungkin Lincoln menjadi orang besar.

Saya tidak menghitung berapa buku yang menceritakan perjuangan hidup Abraham Lincoln ini. Ada di buku yang berisi motivasi, manajerial, ketekunan, kepemimpinan, adversity, perjuangan, ketidakbencian, dan hal-hal yang baik dan mulia lainnya.

Konon, Abraham Lincoln mengalami perjuangan hidup yang keras dan berat seperti ini:
Tahun 1832 Lincoln kehilangan pekerjaan dan digulingkan dalam perebutan kursi legislatif negara bagian Illinois.
Tahun 1833, ia gagal dalam bisnisnya.
Tahun 1834, ia terpilih untuk duduk badan legislati negara bagian.
Tahun 1935, sang kekasih hatinya meninggal dunia.
Tahun 1838, ia gagal menjadi Juru Bicara Gedung Putih.
Tahun 1843, ia gagal lagi menjadi nominasi untuk duduk di Kongres.
Tahun 1846, ia terpilih untuk duduk di Kongres.
Tahun 1846, ia kehilangan kesempatan untuk dicalonkan kembali.
Tahun 1849, ia ditolak menjadi pegawai pengawas tanah pemerintah.
Tahun 1854, ia gagal untuk duduk di senat.
Tahun 1856, ia gagal untuk nominasi jabatan wakil presiden.
Tahun 1858, ia kembali gagal untuk duduk di senat.
Tahun 1860, ia terpilih menjadi presiden Amerika Serikat.

Tapi apakah kejadian itu benar atau tidak, bagi saya bukan itu yang utama dari Abraham Lincoln. Memang perjuangannya luar biasa. Sudah pasti semua orang tidak menjadi presiden. Saya lebih tertarik dengan karakter dan nilainya.

Mengapa dan bagaimana Lincoln sampai bisa seperti itu? Ini lebih menarik. Mengapa dan bagaimana Lincoln menjadi pribadi yang tidak menanamkan kebencian sedikit pun dalam hatinya kepada siapa pun? Bagaimana Lincoln mendapatkan kebijaksanaan dan mempraktikkannya? Bagaimana Lincoln menjadi manusia yang bijaksana?
Ruang Kerja Presiden


Konon, di ruang kerja presiden Amerika Serikat, bahwa gambar yang ada adalah gambar Abraham Lincoln. Lincoln adalah presiden Amerika Serkat yang ke-16. Menjabat presiden 4 Maret 1861-sampai hari terbunuh, 14 April 1865.

Tentang gambar di ruang kerja pemimpin tertinggi sebuah bangsa atau negara, juga menarik perhatian. Bagaimana dengan Indonesia dan bangsa-bangsa lain? Wajah siapakah yang terpampang di bagian atas ruang kerja seorang pemimpin tertinggi? Sepertinya gambar pemimpin itu sendiri.

Tapi ada baiknya juga bahwa gambar resmi di ruang kerja seorang presiden adalah gambar orang lain. Saya pernah baca, tapi tidak tahu persis, seorang presiden Amerika Serikat yang masih aktif saat itu berkata begini, "Jika saya menghadapai persoalan berat atau masalah yang sangat pelik, saya akan melihat gambar Abraham Lincoln dan merenung, 'Jika Lincoln, menghadapi yang seperti ini, apa yang akan diputuskan dan dilakukannya?'"
Pengalaman Hidup Lincoln yang Sangat Penting


Walaupun banyak kriteria dan sangat sulit untuk untuk menentukan seseorang menjadi presiden - the greatest president - tapi dari berbagai survai dan jajak pendapat, bahwa secara umum, Abraham Lincoln-lah yang menjadi presiden terbesar Amerika Serikat. Memang saat seseorang menajdi presiden, hal-hal yang terjadi yang sangat penting: krisis, pergolakan, peperangan, konflik, perang saudara, masalah ras dan perbudakan -- tapi sepertinya tetap Abraham Lincoln disebut-sebut sebagai presiden yang paling bijaksana.

Lalu bagaimana Lincoln menjadi seperti itu? Bagaimana Lincoln mempunyai prinsip 'Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun'? Bagaimana Lincoln menjadi bijaksana?

Saya mendapat cerita, dari The Starting Point of Happiness - A Practical and Intuitive Guide to Discovering Love, Wisdom, and Faith karya Ryuho Okawa, tentang pengalaman hidup Lincoln yang sangat penting, lebih khusus tentang motonya ''Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun':
Akan sangat sulit sekali menemukan orang yang menjalankan moto seperti itu. Bahkan, sangat langka hingga kemungkinan untuk menemukan orang seperti itu kurang dari satu dibanding satu juta. Memiliki niat untuk tidak menyakiti orang lain kedengaran begitu mudah, namun hampir tak ada seorang pun mampu mempraktikkannya. Lincoln adalah satu perkecualian yang jarang ada.

Tetapi, temperamen Lincoln yang sebenarnya jauh dari sifat yang tenang seperti disiratkan oleh moto yang menjadi pegangan hidupnya bertahun-tahun kemudian. Sebagai seorang pemuda, ia mudah marah dan sering berkelahi.

Menurut biografinya, pada awal kariernya sebagai pengacara, ia mengkritik dan menentang banyak orang di depan umum.

Pada suatu hari setelah ia melancarkan serangan kepada seseorang, Lincoln ditantang untuk melakukan duel.

Di tepi sebuah sungai, berdiri saling memunggungi dengan musuhnya, ia mulai menghitung langkahnya sambil menenteng senjata di tangannya, namun tiba-tiba seorang penengah melibatkan diri dan menghentikan duel itu.

Ia terselamatkan.

Dari kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu, Lincoln mendapat pelajaran keras yaitu ada konsekuensi yang sangat serius atas kritikan yang sangat tajam kepada orang lain.

Akibat dari kejadian itu, pandangannya tentang hidup ini, berbalik seratus delapan puluh derajat.

Ia menyadari mengkritik dan mengutuk orang lain memang mudah, namun menjalani hidup tanpa memiliki pikiran yang bisa melukai orang lain sungguh sangat sulit.

Tapi ia memilih jalan yang sulit.


Cerita yang menjadi pengalaman Lincoln itu sangat menentukan hidupnya dari segala sisi.



Walaupun begitu, yang diketahui umum, wajah Abraham Lincoln tidaklah tampan, dia pernah mendapat olok-olokan banyak pihak, akan tetapi dia tidak pernah menganggapnya tabu. Dia sering membuat situasi dengan nuansa humor. Suatu kali, Abraham Lincoln berdebat dengan lawan politiknya. Lawannya mengatakan bahwa apa yang dikerjakan Lincoln berbeda dengan apa yang dikatakannya, dia adalah orang bermuka dua.

Abraham Lincoln mengomentarinya, ”Baru saja saya dikatakan memiliki dua rupa, cobalah dipikir, kalau saja saya memiliki wajah lain, buat apa saya masih memakai wajah ini untuk menjumpai kalian?”


"Perbedaan antara orang biasa dan orang besar adalah kemampuan mereka untuk memilih jalan yang sulit."
~ Ryuho Okawa

Tukang Cukur

Ada seorang tukang cukur tua yang baik hati di sebuah kota di United States.
Suatu hari seorang penjual bunga datang kepadanya untuk memotong rambut.
Selesai potong rambut, dia bermaksud membayar tetapi tukang cukur menjawab :
"Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu.
Saya melakukan pelayanan".
Si penjual bunga sangat gembira dan meninggalkan tukang cukur tersebut.
Pada keesokan paginya, ketika si tukang cukur membuka toko, ada sebuah kartu
ucapan terima kasih dan selusin bunga mawar yang telah menanti di depan
pintu.

Seorang polisi datang untuk potong rambut dan diapun bermaksud membayar
setelah selesai dipotong rambutnya.
Tetapi, si tukang cukur pun menjawab :
"Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu.
Saya melakukan pelayanan". Si polisi pun sangat gembira dan meninggalkan
tukang cukur tersebut.
Pada keesokan paginya,ketika si tukang cukur membuka toko, ada sebuah kartu
ucapan terima kasih dan selusin donat yang telah menanti di depan pintu.

Dihari berikutnya datanglah seorang software engineer dari Indonesia untuk
potong rambut, ketika dia hendak membayar, si tukang cukur pun menjawab :
"Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu. Saya melakukan pelayanan".
Si software engineering dari Indonesia pun amat sangat gembira dan
meninggalkan tukang cukur tersebut.
Pada keesokan paginya, ketika si tukang cukur membuka toko, .. coba tebak
!!! apa yang tukang cukur temukan di depan pintu ???????????? ?????????

!
!
!
!
!
!
!
Dapatkah kamu menebaknya ???????????
!
!
!
!
!
!
Apakah kamu belum tau jawabannya?? ????????? ?
!
!
!
!
!
!
Ayo. Berfikirlah seperti orang indonesia ......!!!!!!
!
!
!
!
!
!
Ok!!!!!OK!!! !!!!!!!!! !!!

Jawabannya :

"Selusin orang Indonesia telah menunggu untuk potong rambut GRATIS...... ...!!!!!! !!!"

Kamis, 02 September 2010

Belum Sukses Atau Belum Bersyukur

Ada seorang raja yang lewat di sebuah hutan. Di hutan itu ia melihat seorang petani miskin yang sedang tidur lelap. Sang raja berpikir, “Aduh, enak sekali ya petani itu. Tidur nyenyak, seolah tak punya beban. Sedangkan aku, tak pernah bisa lelap. Berbagai persoalan kerajaan yang kupikul, membuat mataku tak bisa ngantuk.”

Kemudian sang raja berpikir, andai ia jadi petani, mungkin hidupnya akan lebih bahagia. Ia lalu membangunkan si petani, “Hai petani, maukah kamu bertukar peran denganku. Sehari saja. Biar aku bisa merasakan nikmatnya jadi petani, dan kamu bisa mencicipi enaknya jadi raja.”

Si petani terkaget-kaget. Tentu saja ia girang bukan main. Jadi raja? Hmm...mimpi apa aku semalam, batinnya. “Tapi gimana caranya, Baginda?”

“Kita tinggal saling bertukar pakaian,” ujar sang raja. “Dengan pakaian ini, kamu akan jadi raja betulan dan aku jadi petani.”

Transaksi itupun dimulai. Masing-masing menjalankan perannya. Sang raja yang telah berganti pakaian petani, duduk di bawah pohon sambil menikmati angin yang berembus lembut. “Nah, kini aku jadi seorang petani,” batinnya sambil tersenyum. Lalu ia mencangkul dan tak lama pun tertidur.

Setelah beberapa jam tidur, sang raja bangun dan menggeliatkan tubuhnya. Hmm…enak sekali, pikirnya. Tiba-tiba perutnya terasa lapar. Di mana aku harus cari makanan? Ia lalu melihat ladang garapannya yang tampak subur. Berbagai sayuran, buah-buahan, dan gandum tumbuh rimbun. Ia segera memetiknya dan memakannya dengan lahap.

Akan tetapi, tiba-tiba guntur menggelegar. Hujan turun disertai badai. Sang raja ketakutan dan berlindung di dalam rumahnya yang terbuat dari bambu. Badai itu mengguncang semalaman, dan esok harinya tak ada lagi yang tersisa. Baik ladang maupun rumah petani, ambruk semua. “Aduh, gimana aku bisa makan dan berteduh?” kata sang raja panik. “Mendingan aku cepat-cepat bertemu petani dan kembali jadi raja.”

Sementara itu, di kerajaan, si petani yang berpakaian raja sedang enak-enakan duduk di kursi singgasana yang mewah, dikelilingi para dayang cantik dan para pengawal gagah. “Andai aku selamanya jadi raja,” batinnya, bungah. Malam itu ia habiskan untuk minum-minum dan menyantap aneka makanan lezat yang belum pernah ia temukan sebelumnya.

Namun keesokan paginya, seorang pengawal datang dan memberi kabar buruk, “Baginda, pasukan kerajaan musuh sedang menuju ke sini. Wilayah perbatasan kita sudah diporak-porandakan, sementara prajurit dan senjata kita sama sekali belum disiapkan. Ini serangan mendadak. Apa yang harus kita lakukan?”

Sang raja jadi panik luar biasa. Lalu ia teringat bahwa hari ini ia harus bertukar peran kembali dengan raja yang asli. “Aku harus mencari dia dan kembali jadi petani,” ujarnya.

Raja dan petani pun bertemu di hutan, dan kembali bertukar peran, tanpa mengatakan apa-apa tentang kejadian buruk yang baru saja mereka alami masing-masing. Saat kembali jadi raja, sang raja mendapati kerajaannya sedang diserang musuh. “Sialan, kenapa si petani tidak cerita?” umpatnya. Ia pun segera mengerahkan pasukan kerajaan untuk menghalau musuh. Demikian juga si petani, saat melihat ladang dan rumahnya rata dengan tanah, ia marah, “Kenapa si raja tidak cerita? Dasar pengen enaknya aja.” Ia pun segera membersihkan ladang dan mulai menanam lagi, mengumpulan bambu dan jerami untuk mendirikan rumahnya lagi.

Sambil bekerja, raja dan petani sama-sama berpikir, “Untunglah bisa kembali ke profesi semula. Meski keadaan gawat, setidaknya problem masih bisa kutangani karena aku telah berpengalaman menghadapinya.”

Sahabat, ada banyak itibar yang bisa diambil dari kisah di atas. Salah satunya, mengingatkan kita pada satu pertanyaan, sudahkah kita bersyukur???

Seperti halnya sang raja dan petani. Dalam kasus sehari-hari, sering kita berkhayal pengen jadi ini itu. Yang pengusaha, pengen jadi pegawai. Yang pegawai, pengen jadi pejabat. Yang pejabat, pengen jadi ibu rumah tangga. Yang ibu rumah tangga, pengen jadi artis. Yang artis, pengen jadi pengusaha. Kapan selesainya? Bagai lingkaran yang tak pernah ada ujungnya. Karena masing-masing lupa akan pencapaian diri, dan mulai melirik kanan-kiri. “Duh, enaknya jadi si X,” “Kapan ya aku seperti si Y?” “Tuhan, tolong jadikan aku si Z.”

Keinginan manusia yang tak terbatas, membuat kita selalu ingin berganti kostum. Dari kostum raja menjadi petani, dan sebaliknya, berharap ada ‘kelebihan’ kita temui di dalamnya. Kita tidak tahu bahwa di balik kelebihan yang tercipta di alam khayal kita, pasti ada juga kekurangannya. Semua status atau profesi atau pencapaian apapun selalu ada resikonya. Nah, kadang resiko inilah yang enggan kita pikirkan. Hanya enaknya saja yang kita bayangkan.

Belum lama ini, seorang sahabat lama dari Bandung bertemu kembali dengan saya setelah 4 tahun! Dia sekarang bekerja sebagai agen asuransi di sebuah perusahaan multinasional. Dia berkata pada saya, “Kamu bisnis? Trus juga nulis? Wuih…asyik banget ya. Bebas waktu, bebas berekspresi, bebas...finansial. Sedangkan aku…???”

Saya tertawa mendengar komentarnya. “Ah masa sih enak? Bisnis itu bikin pusing. Nulis juga kadang ngebosenin. Mendingan kamu, jadi agen asuransi. Bisa ketemu orang tiap hari, bikin transaksi tiap hari. Abis gitu, di akhir tahun bisa dapet bonus jalan-jalan ke luar negeri!”

Kami berdua saling tertawa, dan sadar bahwa sebenarnya tak ada pilihan yang lebih enak dalam kehidupan kita. Yang enak adalah, saat kita mencintai pekerjaan kita, menikmati setiap prosesnya, dan benar-benar mensyukurinya. Berhasil atau belum berhasil, tak masalah. Yang penting adalah perasaan ‘bahagia’nya. Kalau kita bahagia, menurut saya, hidup sudah bisa dikatakan sempurna.

Mungkin anda merasa belum sukses di bidang yang sekarang. Tapi siapa tahu, jika mau meluangkan waktu untuk bersyukur, justru anda sudah makmur? Sebagai contoh, kawan saya pernah bilang, “Aduh, kalau lihat teman-teman yang punya rumah mewah dan uang melimpah, rasanya iri sekali. Tapi kalau saya lihat kembali nikmat yang telah saya dapat selama ini, rasanya kok masih alhamdulillah. Saya masih bisa makan, punya tempat tinggal, masih bisa kerja. Saya masih tergolong ‘sukses’ dibanding orang-orang yang tak seberuntung saya.”

Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Bersyukur = Successful

Bersyukur adalah kunci sukses paling penting. Apakah orang itu sekaya Bill Gates, sekeren Brad Pitt, atau sepopuler GW Bush, tanpa syukur dia takkan merasa sukses. Malah, cenderung menganggap dirinya sepele. Orang yang seperti ini tak pernah puas, selalu haus, dan kadang…rakus. Ia menggolongkan diri bukan sebagai orang sukses, tapi sebagai ambisius. Atau kalau tidak ambisius, dia penggerutu. Dan hidupnya selalu kurang.

Sebaliknya, dia yang bersyukur, meski hanya tukang sayur, tukang cukur, atau tukang bubur, dia tetap merasa luhur. Luhur berarti bahwa apa yang dikaruniakan Allah adalah sesuatu yang agung. Sesuatu yang tak pantas dikeluh-kesah, melainkan dijalani sambil terus diasah.

Mensyukuri apapun yang kita dapat, baik-buruknya, susah-senangnya, plus-minusnya, adalah kunci bahagia. Sebab hidup selalu terdiri atas dua sisi. Ada siang ada malam, ada suka ada duka. Setiap sisi selalu berganti satu dengan lainnya, kadang dalam tempo tak terduga. Kalau tidak bersyukur, perubahan-perubahan ini tentu saja menjadi beban dan bukannya hikmah. Kalau sudah menganggap beban, akan mudah bagi kita untuk menjuluki diri sendiri sebagai orang gagal!

Sewaktu kanak-kanak, pasti kita pernah mendengar dongeng tentang Pangeran Kodok, Lutung Kasarung, atau Rapunzel. Seekor kodok jelek tiba-tiba berubah jadi pangeran tampan ketika ia tahu bahwa gadis cantik mencintai sang kodok. Seekor lutung hitam berubah jadi pemuda gagah saat putri cantik mencintai sang lutung. Rapunzel yang buruk rupa mendadak berubah jadi cantik ketika seorang pangeran memanjati menara untuk menolongnya.

Apakah dongeng-dongeng itu ingin agar setiap orang berkhayal jadi cantik/tampan dan disunting pangeran/putri impian?

Tidak! Makna sesungguhnya dari dongeng-dongeng itu adalah: ketika cinta merasuk dalam dada, apa yang pada awalnya tampak buruk pun bisa menjadi cahaya. Itulah makna rasa syukur. Manakala syukur itu ada, apapun kemasannya, segala isi dunia akan tampak indah senantiasa.

Mari kembali tengok ke dalam, apakah kita belum sukses, ataukah belum bersyukur?? Kalau memang belum sukses, masih banyak cara untuk meraihnya. Tapi kalau belum bersyukur, hanya ada satu cara yakni: kembali menghitung nikmat Allah dan menghidupkan rasa malu kita di hadapan-Nya.

“…Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (Al Mulk 67:23) Padahal seharusnya “…Terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (Adh Dhuha 93:11)


Bersyukur = Bertafakur

Kalau kita hanya seorang petani, namun terbersit ingin jadi raja, jangan salahkan siap-siapa. Jangan tanya, “Kenapa orangtuaku bukan raja? Kenapa Tuhanku tidak menjadikanku raja?” Itu pertanyaan yang tiada guna. Takkan pernah ada jawabnya.
Saat sesuatu terjadi di luar harapan kita, hentikan berprasangka, dan mulailah bertafakur. Tengoklah lebih dalam. Pasti di sana ada harapan. Ada serpih-serpih kebaikan. Ada kunci-kunci kebahagiaan.

Allah Maha Mendengar isi hati. “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (Al Mulk 67:13) Allah pasti mengabulkan doa kita, harapan kita, meskipun bisa jadi dalam bentuk yang berbeda dari apa yang kita bayangkan.

Kita meminta kekuatan,
Dia memberi berbagai kesulitan agar kita jadi tegar.
Kita meminta kebijaksanaan,
Dia memberi berbagai masalah untuk diselesaikan.
Kita meminta kekayaan,
Dia memberi tenaga dan pikiran untuk bekerja.
Kita meminta keberanian,
Dia memberi rintangan untuk diterjang.
Kita meminta kasih sayang,
Dia memberi orang susah untuk diberi pertolongan.
Kita meminta kesuksesan,
Dia memberi kita peluang dan kesempatan.

Kita meminta jadi raja supaya hidup enak, Allah malah menjadikan kita petani. Kenapa? Supaya tak usah pusing memikirkan rakyat dan peperangan. Nah, bukanlah Allah Maha Memudahkan?

Kita meminta jadi petani supaya bisa tidur nyenyak, Allah malah menjadikan kita raja. Kenapa? Supaya terhindar dari badai yang menimpa ladang dan tempat peristirahatan.

Kita diberi amanah yang berbeda satu sama lain, supaya kita menghadapi berbagai ujian hidup dengan tangan-tangan kita sendiri, dengan kemampuan yang kita punyai, bukan dengan sesuatu yang kita tidak dibekali.

Kita meminta apa yang kita inginkan, Dia memberi apa yang kita butuhkan. Allah tak pernah salah memberikan segala sesuatu pada hamba-Nya. Dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita.

“…Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Luqman 31:12)

Sahabat, ayo awali tahun baru ini dengan rasa syukur. Karena dibalik syukur, terdapat hikmah yang sangat nyata untuk menunjang keberhasilan kita di dunia dan akhirat. Percayalah, syukur akan membuat kita mujur dan bertambah makmur! Seperti Firman-Nya, “...Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan bila kamu tidak bersyukur maka ketahuilah bahwa azab-Ku sangat pedih.”(Ibrahim 14:7)

Syukur itu indah. Syukur itu rahmah. Syukur itu mudah. Syukur itu…Alhamdulillah.


Copyright 2008 by Elie Mulyadi

Bergunakah Diri Saya?


Jangan berusaha menjadi orang yang berhasil
Berusahalah menjadi orang yang berguna

- Sebuah pepatah


Pada suatu pagi dalam perjalanan, tak sengaja saya mendengarkan siaran radio. Di antara jeda iklan-iklan, seorang penyiar berkata, “jangan berusaha jadi orang yang berhasil. Tapi berusahalah jadi orang yang berguna.”

Lama saya merenungkan kalimat itu. Apa maksudnya ya?

Kemudian saya teringat peristiwa sebelumnya. Seorang teman dekat pernah curhat kepada saya. “Aduh, aku kesal banget sama bosku. Keluar kantor sebentar, langsung dicari-cari. Teman-teman sekantor juga sama nyebelinnya. Kalau aku tak ada, mereka terus-terusan menelepon atau sms. Minta dikasih tahu cara buat laporan-lah, minta ini-lah, minta itu-lah. Kapan ya aku bisa hidup tenang tanpa gangguan?”

Waktu itu saya cuma menanggapinya dengan senyum. Saya berkata singkat, “Itu berarti kamu dibutuhkan.”

Sekarang, setelah mendengar kata-kata penyiar di radio itu, saya jadi berpikir, seharusnya saya menyarankan teman saya itu bersyukur. Kenapa? Karena dia orang yang diinginkan. Kehadirannya selalu dibutuhkan, sampai-sampai ketika keluar kantor sebentar orang-orang langsung mencarinya. Itulah yang menurut saya orang yang berguna.

Bayangkan, bagaimana rasanya bila kita tidak dibutuhkan? Tidak dipedulikan? Kalau kita hadir di kantor, misalnya, orang lain tidak ‘nyadar’. Kalau kita tidak hadir, orang lain tidak merasa kehilangan. Pasti tidak menyenangkan, bukan? Rasanya sangat tidak diinginkan. Tidak berguna. Namun di dunia nyata, selalu ada saja orang yang demikian.

Sering saya mendengar ada teman yang bekerja di kantor dengan asal-asalan. Orang-orang datang pagi, dia baru muncul siang hari. Setiba di meja kerja, bukannya mengerjakan tugas, malah main game atau facebook-an. Kalau bos lewat, barulah pura-pura menulis laporan. Orang-orang masih sibuk menyelesaikan tugas, dia sudah beres-beres untuk pulang. Datang paling akhir, pulang paling awal. Kalau giliran makan, dia paling semangat. Tapi giliran bertugas, dia paling malas. Demikanlah kesehariannya. Perusahaan memang tidak memecatnya. Tapi bos dan teman-temannya jadi sebal padanya. Mereka menganggapnya cuma benalu saja. Orang tak berguna, begitulah ia dijuluki. Di dunia nyata, tidak sedikit orang yang seperti ini.

Sahabat, semoga kita tidak termasuk orang seperti itu ya! Meski kita bekerja di tempat nyaman, aman secara finansial, kita tidak boleh terlena. Orang lain bisa jadi tidak bisa menegur kita. Tapi apakah kita bisa menghindari teguran dari-Nya?

Sebagai muslim yang baik, tentu kita berharap untuk selalu mendapat ridho-Nya, meraih kecintaan-Nya. Dan saya pernah mendengar suatu hadits yang bunyinya begini:

"Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah orang yang paling berguna di antara mereka.”

Subhanallah. Alangkah indahnya hadits itu. Kita diberitahu, bila kita menjadi orang yang berguna, Allah swt akan mencintai kita!

Saya jadi mulai berpikir, sudahkah saya menjadi orang yang berguna? Seberapa bergunakah diri saya?

Saat saya pergi dari kantor satu atau beberapa hari, apakah saya dicari? Ataukah orang lain tak peduli meski saya lama pergi?

Apakah saya dibutuhkan, ataukah tidak apa jika diabaikan? Apakah sebuah sistem akan terhambat, ataukah dunia tetap berjalan seperti biasa bila saya tak ada?

Bermanfaatkah saya bagi dunia di sekeliling saya? Ataukah keberadaan saya hanya untuk memenuhi bumi saja?

Begitu banyak pertanyaan menyergap saya. Saya belum tahu jawabannya. Ini akan menjadi PR besar. Tapi yang pasti, saya tahu saya harus menjadi orang yang berguna. Yaitu ketika kita ada, orang lain menjadi senang. Ketika kita tidak ada, orang lain merindukan. Subhanallah. Alangkah indahnya menjadi orang yang seperti itu, bukan?

Saya jadi teringat kisah tentang nabi kita.

Ada seorang pedagang minyak wangi di Madinah yang sangat senang memandang wajah Rasulullah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah dulu ke rumah Rasulullah, dan dengan sabar menunggu sampai beliau keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia mengucapkan salam, memandang wajah beliau begitu lama, lalu setelah puas dia pun pergi. Begitu saja yang dilakukannya setiap kali pergi ke pasar. Suatu kali, ketika kembali dari pasar, orang itu datang lagi untuk melihat Rasulullah. Kali ini dia berkata, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya takut tidak bisa melihat engkau setelah ini.” Beliau mengizinkannya. Dan tak lama kemudian terdengar kabar pedagang itu meninggal dunia. Rasulullah pun terharu dan bersabda, “Kecintaannya kepadaku akan menyelamatkannya di hari akhirat.”

Rasulullah saw adalah contoh yang sangat dicintai. Ketika beliau hadir, para sahabat menjadi senang. Seperti pedagang minyak itu, yang tak pernah bosan memandang wajah Rasulullah sampai akhir hayatnya. Dan ketika beliau tak ada, para sahabat sangat merindukan. Banyak sekali kisah yang menjelaskan betapa besarnya kerinduan para sahabat kepada Rasulullah setelah beliau tiada. Contohnya adalah Bilal.

Bilal adalah sahabat Rasulullah yang dulunya seorang budak, kemudian dimerdekakan. Semasa hidup Rasulullah, Bilal selalu mengumandangkan adzan. Suara adzannya sangat indah. Akan tetapi ketika Rasulullah wafat, ia tidak mau beradzan lagi. Ia tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad Rasulullah” karena ada kata-kata Muhammad di situ. Suatu kali Fatimah mendesak Bilal untuk adzan karena rindu mendengar seruannya. Dengan berat hati, Bilal pun beradzan. Namun ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, ia berhenti. Ia menangis terisak-isak, lalu turun dari mimbar dan meminta izin pada Fatimah untuk tidak lagi membaca adzan. Mendengar suara adzan yang terhenti, seluruh Madinah berguncang karena tangisan kerinduan kepada Rasulullah Saw!

Sahabat, kita tidak mungkin bisa seperti nabi kita. Namun, menjadi orang yang dicintai baik ketika ada maupun tiada, bukanlah suatu hal yang mustahil. Bagaimana caranya? Sederhana, yaitu jadilah orang yang berguna.


Lalu, bagaimana caranya menjadi orang yang berguna?

Sulitkah? Rasanya tidak. Mari kita renungkan kelanjutkan hadits berikut:

"Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah orang
yang paling berguna di antara mereka. Dan perbuatan yang
paling dicintai oleh Allah ialah kegembiraan yang
dimasukkan ke dalam diri orang Muslim, atau menyingkirkan
kegelisahan dari diri mereka, atau membayarkan hutangnya,
atau menghilangkan rasa laparnya."

Sahabat, apa yang bisa kita ambil dari hadits di atas? Ya. Untuk menjadi orang yang berguna, kita bisa memulainya dari hal-hal yang sederhana. Menghibur teman yang sedang sedih, menjadi teman curhatnya, membuatnya kembali tertawa– segala sesuatu yang berkaitan dengan keseharian kita. Memaafkan kesalahan orang lain, menolong orang lain mengatasi kesulitan hidupnya, bersedekah, adalah perbuatan yang berguna. Mudah, bukan?

Saya jadi teringat seorang teman. Waktu itu saya dan tim diundang untuk memberikan pelatihan jurnalistik di luar pulau Jawa. Kami diberi fasilitas yang baik. Namun sayang, pihak perusahaan yang mengundang tidak bisa menyambut kami dengan optimal. Mereka sedang kekurangan tenaga, sehingga saya dan tim dibiarkan bekerja sendiri tanpa ramah tamah yang memadai. Padahal tim pelatih adalah orang-orang hebat dari kalangan media. Rasa kecewa pun sempat menyeruak di antara kami. Dan di saat itulah, tiba-tiba seorang perempuan tak dikenal hadir di tengah-tengah kami.

Dia masih muda, dan termasuk pengusaha kaya di kota itu. Dia sama sekali tidak ada hubungan dengan perusahaan yang mengundang. Dia hanya pernah kenal sepintas dengan salah satu dari kami. Namun dia langsung mengambil alih posisi menjadi ‘tuan rumah yang baik’. Kami diajak berkeliling kota itu, mengenal budaya dan tempat wisatanya, mentraktir makanan spesial, menceritakan dongeng-dongeng dengan riang. Tanpa kenal lelah dia menemani kami. Padahal dia sangat sibuk dengan bisnisnya, dan juga punya anak kecil di rumahnya. Tapi selama tiga hari lamanya, dia terus menjamu kami, mengajak berkunjung ke supermarket miliknya, membelikan oleh-oleh dan sebagainya. Sampai saatnya kami pulang, dia mengantar sampai bandara. Ketika tahu penerbangan ditunda, dia mengantarkan makanan supaya kami tidak bosan dan kelaparan. Ketika penerbangan dibatalkan, dia berjuang mengurus agen perjalanan agar saya dan tim bisa pulang hari itu.

Begitulah. Seorang yang tak dikenal, melimpahi kami dengan kebaikan, keramhatamahan, dan bahkan uang, tanpa mengharap balasan sedikit pun. Saya tidak tahu apa keuntungan yang dia peroleh dengan berbuat begitu. Ketika saya bertanya padanya, dia hanya menjawab, “Saya memang senang melakukannya.”

Sahabat, saya jadi iri kepada teman baru saya itu. Seumur hidup baru kali ini saya menemukan orang sebaik itu. Dia begitu penuh perhatian. Dia sudah sukses secara materi, namun tetap tidak melupakan satu hal, yakni menebar kebaikan bagi orang-orang, di sekitarnya, yang bahkan tak begitu dikenalnya.

Dari dia, saya jadi tahu bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai sesuatu. Hidup bukan hanya mencapai hasil. Namun lebih dari itu, sudahkah kita menjadi orang yang berguna? Orang yang membawa keceriaan bagi dunia di sekeliling kita.


Jadilah orang yang berguna!

Ya. Sahabat.

Allah swt telah menciptakan kita untuk menjadi rahmat. Sudahkah kita menjadi rahmat bagi orang-orang di sekitar? Apakah saat kita lewat, orang-orang akan menyadari kehadiran kita, merasakan manfaat kita? Ataukah kita tipe orang yang tak ‘terlihat’ dan ‘tak guna dilihat’?

Jangan biaran diri kita terabaikan, tak terlihat, seperti debu kecil lewat. Biarkan orang tahu bahwa kita ada, yakni dengan melakuan sesuatu yang berguna untuk mereka. Alangkah indah bila keberadaan kita menjadi rahmat bagi orang banyak.

Hadirlah…eksis-lah…biarkan orang menyadari kehadiran anda – bukan dengan banyak bicara sehingga kata-kata anda didengar, tapi dengan tindakan anda yang bermanfaat untuk sekitar. Meski anda pendiam, tidak banyak bicara, tapi bila menghasilkan karya yang baik, anda akan dilirik. Itulah esensi dari kata sukses. Benar kata penyiar tersebut, jangan berusaha menjadi orang yang berhasil, tapi berusahalah jadi orang yang berguna. Dengan menjadi orang yang berguna, anda pasti akan menjadi orang yang berhasil. Tidak hanya meraih keuntungan diri, namun juga meraih cinta sesama, dan yang terpenting dapat menggapai kecintaan dari-Nya.

Insya Allah…

Copyright@2009 by Elie Mulyadi.