Kamis, 02 September 2010

Belum Sukses Atau Belum Bersyukur

Ada seorang raja yang lewat di sebuah hutan. Di hutan itu ia melihat seorang petani miskin yang sedang tidur lelap. Sang raja berpikir, “Aduh, enak sekali ya petani itu. Tidur nyenyak, seolah tak punya beban. Sedangkan aku, tak pernah bisa lelap. Berbagai persoalan kerajaan yang kupikul, membuat mataku tak bisa ngantuk.”

Kemudian sang raja berpikir, andai ia jadi petani, mungkin hidupnya akan lebih bahagia. Ia lalu membangunkan si petani, “Hai petani, maukah kamu bertukar peran denganku. Sehari saja. Biar aku bisa merasakan nikmatnya jadi petani, dan kamu bisa mencicipi enaknya jadi raja.”

Si petani terkaget-kaget. Tentu saja ia girang bukan main. Jadi raja? Hmm...mimpi apa aku semalam, batinnya. “Tapi gimana caranya, Baginda?”

“Kita tinggal saling bertukar pakaian,” ujar sang raja. “Dengan pakaian ini, kamu akan jadi raja betulan dan aku jadi petani.”

Transaksi itupun dimulai. Masing-masing menjalankan perannya. Sang raja yang telah berganti pakaian petani, duduk di bawah pohon sambil menikmati angin yang berembus lembut. “Nah, kini aku jadi seorang petani,” batinnya sambil tersenyum. Lalu ia mencangkul dan tak lama pun tertidur.

Setelah beberapa jam tidur, sang raja bangun dan menggeliatkan tubuhnya. Hmm…enak sekali, pikirnya. Tiba-tiba perutnya terasa lapar. Di mana aku harus cari makanan? Ia lalu melihat ladang garapannya yang tampak subur. Berbagai sayuran, buah-buahan, dan gandum tumbuh rimbun. Ia segera memetiknya dan memakannya dengan lahap.

Akan tetapi, tiba-tiba guntur menggelegar. Hujan turun disertai badai. Sang raja ketakutan dan berlindung di dalam rumahnya yang terbuat dari bambu. Badai itu mengguncang semalaman, dan esok harinya tak ada lagi yang tersisa. Baik ladang maupun rumah petani, ambruk semua. “Aduh, gimana aku bisa makan dan berteduh?” kata sang raja panik. “Mendingan aku cepat-cepat bertemu petani dan kembali jadi raja.”

Sementara itu, di kerajaan, si petani yang berpakaian raja sedang enak-enakan duduk di kursi singgasana yang mewah, dikelilingi para dayang cantik dan para pengawal gagah. “Andai aku selamanya jadi raja,” batinnya, bungah. Malam itu ia habiskan untuk minum-minum dan menyantap aneka makanan lezat yang belum pernah ia temukan sebelumnya.

Namun keesokan paginya, seorang pengawal datang dan memberi kabar buruk, “Baginda, pasukan kerajaan musuh sedang menuju ke sini. Wilayah perbatasan kita sudah diporak-porandakan, sementara prajurit dan senjata kita sama sekali belum disiapkan. Ini serangan mendadak. Apa yang harus kita lakukan?”

Sang raja jadi panik luar biasa. Lalu ia teringat bahwa hari ini ia harus bertukar peran kembali dengan raja yang asli. “Aku harus mencari dia dan kembali jadi petani,” ujarnya.

Raja dan petani pun bertemu di hutan, dan kembali bertukar peran, tanpa mengatakan apa-apa tentang kejadian buruk yang baru saja mereka alami masing-masing. Saat kembali jadi raja, sang raja mendapati kerajaannya sedang diserang musuh. “Sialan, kenapa si petani tidak cerita?” umpatnya. Ia pun segera mengerahkan pasukan kerajaan untuk menghalau musuh. Demikian juga si petani, saat melihat ladang dan rumahnya rata dengan tanah, ia marah, “Kenapa si raja tidak cerita? Dasar pengen enaknya aja.” Ia pun segera membersihkan ladang dan mulai menanam lagi, mengumpulan bambu dan jerami untuk mendirikan rumahnya lagi.

Sambil bekerja, raja dan petani sama-sama berpikir, “Untunglah bisa kembali ke profesi semula. Meski keadaan gawat, setidaknya problem masih bisa kutangani karena aku telah berpengalaman menghadapinya.”

Sahabat, ada banyak itibar yang bisa diambil dari kisah di atas. Salah satunya, mengingatkan kita pada satu pertanyaan, sudahkah kita bersyukur???

Seperti halnya sang raja dan petani. Dalam kasus sehari-hari, sering kita berkhayal pengen jadi ini itu. Yang pengusaha, pengen jadi pegawai. Yang pegawai, pengen jadi pejabat. Yang pejabat, pengen jadi ibu rumah tangga. Yang ibu rumah tangga, pengen jadi artis. Yang artis, pengen jadi pengusaha. Kapan selesainya? Bagai lingkaran yang tak pernah ada ujungnya. Karena masing-masing lupa akan pencapaian diri, dan mulai melirik kanan-kiri. “Duh, enaknya jadi si X,” “Kapan ya aku seperti si Y?” “Tuhan, tolong jadikan aku si Z.”

Keinginan manusia yang tak terbatas, membuat kita selalu ingin berganti kostum. Dari kostum raja menjadi petani, dan sebaliknya, berharap ada ‘kelebihan’ kita temui di dalamnya. Kita tidak tahu bahwa di balik kelebihan yang tercipta di alam khayal kita, pasti ada juga kekurangannya. Semua status atau profesi atau pencapaian apapun selalu ada resikonya. Nah, kadang resiko inilah yang enggan kita pikirkan. Hanya enaknya saja yang kita bayangkan.

Belum lama ini, seorang sahabat lama dari Bandung bertemu kembali dengan saya setelah 4 tahun! Dia sekarang bekerja sebagai agen asuransi di sebuah perusahaan multinasional. Dia berkata pada saya, “Kamu bisnis? Trus juga nulis? Wuih…asyik banget ya. Bebas waktu, bebas berekspresi, bebas...finansial. Sedangkan aku…???”

Saya tertawa mendengar komentarnya. “Ah masa sih enak? Bisnis itu bikin pusing. Nulis juga kadang ngebosenin. Mendingan kamu, jadi agen asuransi. Bisa ketemu orang tiap hari, bikin transaksi tiap hari. Abis gitu, di akhir tahun bisa dapet bonus jalan-jalan ke luar negeri!”

Kami berdua saling tertawa, dan sadar bahwa sebenarnya tak ada pilihan yang lebih enak dalam kehidupan kita. Yang enak adalah, saat kita mencintai pekerjaan kita, menikmati setiap prosesnya, dan benar-benar mensyukurinya. Berhasil atau belum berhasil, tak masalah. Yang penting adalah perasaan ‘bahagia’nya. Kalau kita bahagia, menurut saya, hidup sudah bisa dikatakan sempurna.

Mungkin anda merasa belum sukses di bidang yang sekarang. Tapi siapa tahu, jika mau meluangkan waktu untuk bersyukur, justru anda sudah makmur? Sebagai contoh, kawan saya pernah bilang, “Aduh, kalau lihat teman-teman yang punya rumah mewah dan uang melimpah, rasanya iri sekali. Tapi kalau saya lihat kembali nikmat yang telah saya dapat selama ini, rasanya kok masih alhamdulillah. Saya masih bisa makan, punya tempat tinggal, masih bisa kerja. Saya masih tergolong ‘sukses’ dibanding orang-orang yang tak seberuntung saya.”

Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Bersyukur = Successful

Bersyukur adalah kunci sukses paling penting. Apakah orang itu sekaya Bill Gates, sekeren Brad Pitt, atau sepopuler GW Bush, tanpa syukur dia takkan merasa sukses. Malah, cenderung menganggap dirinya sepele. Orang yang seperti ini tak pernah puas, selalu haus, dan kadang…rakus. Ia menggolongkan diri bukan sebagai orang sukses, tapi sebagai ambisius. Atau kalau tidak ambisius, dia penggerutu. Dan hidupnya selalu kurang.

Sebaliknya, dia yang bersyukur, meski hanya tukang sayur, tukang cukur, atau tukang bubur, dia tetap merasa luhur. Luhur berarti bahwa apa yang dikaruniakan Allah adalah sesuatu yang agung. Sesuatu yang tak pantas dikeluh-kesah, melainkan dijalani sambil terus diasah.

Mensyukuri apapun yang kita dapat, baik-buruknya, susah-senangnya, plus-minusnya, adalah kunci bahagia. Sebab hidup selalu terdiri atas dua sisi. Ada siang ada malam, ada suka ada duka. Setiap sisi selalu berganti satu dengan lainnya, kadang dalam tempo tak terduga. Kalau tidak bersyukur, perubahan-perubahan ini tentu saja menjadi beban dan bukannya hikmah. Kalau sudah menganggap beban, akan mudah bagi kita untuk menjuluki diri sendiri sebagai orang gagal!

Sewaktu kanak-kanak, pasti kita pernah mendengar dongeng tentang Pangeran Kodok, Lutung Kasarung, atau Rapunzel. Seekor kodok jelek tiba-tiba berubah jadi pangeran tampan ketika ia tahu bahwa gadis cantik mencintai sang kodok. Seekor lutung hitam berubah jadi pemuda gagah saat putri cantik mencintai sang lutung. Rapunzel yang buruk rupa mendadak berubah jadi cantik ketika seorang pangeran memanjati menara untuk menolongnya.

Apakah dongeng-dongeng itu ingin agar setiap orang berkhayal jadi cantik/tampan dan disunting pangeran/putri impian?

Tidak! Makna sesungguhnya dari dongeng-dongeng itu adalah: ketika cinta merasuk dalam dada, apa yang pada awalnya tampak buruk pun bisa menjadi cahaya. Itulah makna rasa syukur. Manakala syukur itu ada, apapun kemasannya, segala isi dunia akan tampak indah senantiasa.

Mari kembali tengok ke dalam, apakah kita belum sukses, ataukah belum bersyukur?? Kalau memang belum sukses, masih banyak cara untuk meraihnya. Tapi kalau belum bersyukur, hanya ada satu cara yakni: kembali menghitung nikmat Allah dan menghidupkan rasa malu kita di hadapan-Nya.

“…Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (Al Mulk 67:23) Padahal seharusnya “…Terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (Adh Dhuha 93:11)


Bersyukur = Bertafakur

Kalau kita hanya seorang petani, namun terbersit ingin jadi raja, jangan salahkan siap-siapa. Jangan tanya, “Kenapa orangtuaku bukan raja? Kenapa Tuhanku tidak menjadikanku raja?” Itu pertanyaan yang tiada guna. Takkan pernah ada jawabnya.
Saat sesuatu terjadi di luar harapan kita, hentikan berprasangka, dan mulailah bertafakur. Tengoklah lebih dalam. Pasti di sana ada harapan. Ada serpih-serpih kebaikan. Ada kunci-kunci kebahagiaan.

Allah Maha Mendengar isi hati. “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (Al Mulk 67:13) Allah pasti mengabulkan doa kita, harapan kita, meskipun bisa jadi dalam bentuk yang berbeda dari apa yang kita bayangkan.

Kita meminta kekuatan,
Dia memberi berbagai kesulitan agar kita jadi tegar.
Kita meminta kebijaksanaan,
Dia memberi berbagai masalah untuk diselesaikan.
Kita meminta kekayaan,
Dia memberi tenaga dan pikiran untuk bekerja.
Kita meminta keberanian,
Dia memberi rintangan untuk diterjang.
Kita meminta kasih sayang,
Dia memberi orang susah untuk diberi pertolongan.
Kita meminta kesuksesan,
Dia memberi kita peluang dan kesempatan.

Kita meminta jadi raja supaya hidup enak, Allah malah menjadikan kita petani. Kenapa? Supaya tak usah pusing memikirkan rakyat dan peperangan. Nah, bukanlah Allah Maha Memudahkan?

Kita meminta jadi petani supaya bisa tidur nyenyak, Allah malah menjadikan kita raja. Kenapa? Supaya terhindar dari badai yang menimpa ladang dan tempat peristirahatan.

Kita diberi amanah yang berbeda satu sama lain, supaya kita menghadapi berbagai ujian hidup dengan tangan-tangan kita sendiri, dengan kemampuan yang kita punyai, bukan dengan sesuatu yang kita tidak dibekali.

Kita meminta apa yang kita inginkan, Dia memberi apa yang kita butuhkan. Allah tak pernah salah memberikan segala sesuatu pada hamba-Nya. Dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita.

“…Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Luqman 31:12)

Sahabat, ayo awali tahun baru ini dengan rasa syukur. Karena dibalik syukur, terdapat hikmah yang sangat nyata untuk menunjang keberhasilan kita di dunia dan akhirat. Percayalah, syukur akan membuat kita mujur dan bertambah makmur! Seperti Firman-Nya, “...Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan bila kamu tidak bersyukur maka ketahuilah bahwa azab-Ku sangat pedih.”(Ibrahim 14:7)

Syukur itu indah. Syukur itu rahmah. Syukur itu mudah. Syukur itu…Alhamdulillah.


Copyright 2008 by Elie Mulyadi

0 komentar: