Jumat, 03 September 2010

Tanpa Kebencian Pada Siapapun

''Kemerdekaan menuntut kewaspadaan dan kesetiaan selamanya.''
~ Abraham Lincoln

Siapa yang tidak mengetahui setidaknya sedikit saja tentang Abraham Lincoln? Dari cerita tentang Lincoln-lah saya mendengar istilah 'Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun'.

Tentu saya cukup sering mendengar yang seperti itu dari khotbah-khotbah di tempat-tempat ibadah, di radio, bahkan di televisi. Tapi apakah yang berkhotbah melakukan seperti yang dikatakannya? Semoga!

Tapi khusus tentang 'Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun', setahu yang saya baca, Abraham Lincoln melakukannya. Karena itulah mungkin Lincoln menjadi orang besar.

Saya tidak menghitung berapa buku yang menceritakan perjuangan hidup Abraham Lincoln ini. Ada di buku yang berisi motivasi, manajerial, ketekunan, kepemimpinan, adversity, perjuangan, ketidakbencian, dan hal-hal yang baik dan mulia lainnya.

Konon, Abraham Lincoln mengalami perjuangan hidup yang keras dan berat seperti ini:
Tahun 1832 Lincoln kehilangan pekerjaan dan digulingkan dalam perebutan kursi legislatif negara bagian Illinois.
Tahun 1833, ia gagal dalam bisnisnya.
Tahun 1834, ia terpilih untuk duduk badan legislati negara bagian.
Tahun 1935, sang kekasih hatinya meninggal dunia.
Tahun 1838, ia gagal menjadi Juru Bicara Gedung Putih.
Tahun 1843, ia gagal lagi menjadi nominasi untuk duduk di Kongres.
Tahun 1846, ia terpilih untuk duduk di Kongres.
Tahun 1846, ia kehilangan kesempatan untuk dicalonkan kembali.
Tahun 1849, ia ditolak menjadi pegawai pengawas tanah pemerintah.
Tahun 1854, ia gagal untuk duduk di senat.
Tahun 1856, ia gagal untuk nominasi jabatan wakil presiden.
Tahun 1858, ia kembali gagal untuk duduk di senat.
Tahun 1860, ia terpilih menjadi presiden Amerika Serikat.

Tapi apakah kejadian itu benar atau tidak, bagi saya bukan itu yang utama dari Abraham Lincoln. Memang perjuangannya luar biasa. Sudah pasti semua orang tidak menjadi presiden. Saya lebih tertarik dengan karakter dan nilainya.

Mengapa dan bagaimana Lincoln sampai bisa seperti itu? Ini lebih menarik. Mengapa dan bagaimana Lincoln menjadi pribadi yang tidak menanamkan kebencian sedikit pun dalam hatinya kepada siapa pun? Bagaimana Lincoln mendapatkan kebijaksanaan dan mempraktikkannya? Bagaimana Lincoln menjadi manusia yang bijaksana?
Ruang Kerja Presiden


Konon, di ruang kerja presiden Amerika Serikat, bahwa gambar yang ada adalah gambar Abraham Lincoln. Lincoln adalah presiden Amerika Serkat yang ke-16. Menjabat presiden 4 Maret 1861-sampai hari terbunuh, 14 April 1865.

Tentang gambar di ruang kerja pemimpin tertinggi sebuah bangsa atau negara, juga menarik perhatian. Bagaimana dengan Indonesia dan bangsa-bangsa lain? Wajah siapakah yang terpampang di bagian atas ruang kerja seorang pemimpin tertinggi? Sepertinya gambar pemimpin itu sendiri.

Tapi ada baiknya juga bahwa gambar resmi di ruang kerja seorang presiden adalah gambar orang lain. Saya pernah baca, tapi tidak tahu persis, seorang presiden Amerika Serikat yang masih aktif saat itu berkata begini, "Jika saya menghadapai persoalan berat atau masalah yang sangat pelik, saya akan melihat gambar Abraham Lincoln dan merenung, 'Jika Lincoln, menghadapi yang seperti ini, apa yang akan diputuskan dan dilakukannya?'"
Pengalaman Hidup Lincoln yang Sangat Penting


Walaupun banyak kriteria dan sangat sulit untuk untuk menentukan seseorang menjadi presiden - the greatest president - tapi dari berbagai survai dan jajak pendapat, bahwa secara umum, Abraham Lincoln-lah yang menjadi presiden terbesar Amerika Serikat. Memang saat seseorang menajdi presiden, hal-hal yang terjadi yang sangat penting: krisis, pergolakan, peperangan, konflik, perang saudara, masalah ras dan perbudakan -- tapi sepertinya tetap Abraham Lincoln disebut-sebut sebagai presiden yang paling bijaksana.

Lalu bagaimana Lincoln menjadi seperti itu? Bagaimana Lincoln mempunyai prinsip 'Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun'? Bagaimana Lincoln menjadi bijaksana?

Saya mendapat cerita, dari The Starting Point of Happiness - A Practical and Intuitive Guide to Discovering Love, Wisdom, and Faith karya Ryuho Okawa, tentang pengalaman hidup Lincoln yang sangat penting, lebih khusus tentang motonya ''Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun':
Akan sangat sulit sekali menemukan orang yang menjalankan moto seperti itu. Bahkan, sangat langka hingga kemungkinan untuk menemukan orang seperti itu kurang dari satu dibanding satu juta. Memiliki niat untuk tidak menyakiti orang lain kedengaran begitu mudah, namun hampir tak ada seorang pun mampu mempraktikkannya. Lincoln adalah satu perkecualian yang jarang ada.

Tetapi, temperamen Lincoln yang sebenarnya jauh dari sifat yang tenang seperti disiratkan oleh moto yang menjadi pegangan hidupnya bertahun-tahun kemudian. Sebagai seorang pemuda, ia mudah marah dan sering berkelahi.

Menurut biografinya, pada awal kariernya sebagai pengacara, ia mengkritik dan menentang banyak orang di depan umum.

Pada suatu hari setelah ia melancarkan serangan kepada seseorang, Lincoln ditantang untuk melakukan duel.

Di tepi sebuah sungai, berdiri saling memunggungi dengan musuhnya, ia mulai menghitung langkahnya sambil menenteng senjata di tangannya, namun tiba-tiba seorang penengah melibatkan diri dan menghentikan duel itu.

Ia terselamatkan.

Dari kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu, Lincoln mendapat pelajaran keras yaitu ada konsekuensi yang sangat serius atas kritikan yang sangat tajam kepada orang lain.

Akibat dari kejadian itu, pandangannya tentang hidup ini, berbalik seratus delapan puluh derajat.

Ia menyadari mengkritik dan mengutuk orang lain memang mudah, namun menjalani hidup tanpa memiliki pikiran yang bisa melukai orang lain sungguh sangat sulit.

Tapi ia memilih jalan yang sulit.


Cerita yang menjadi pengalaman Lincoln itu sangat menentukan hidupnya dari segala sisi.



Walaupun begitu, yang diketahui umum, wajah Abraham Lincoln tidaklah tampan, dia pernah mendapat olok-olokan banyak pihak, akan tetapi dia tidak pernah menganggapnya tabu. Dia sering membuat situasi dengan nuansa humor. Suatu kali, Abraham Lincoln berdebat dengan lawan politiknya. Lawannya mengatakan bahwa apa yang dikerjakan Lincoln berbeda dengan apa yang dikatakannya, dia adalah orang bermuka dua.

Abraham Lincoln mengomentarinya, ”Baru saja saya dikatakan memiliki dua rupa, cobalah dipikir, kalau saja saya memiliki wajah lain, buat apa saya masih memakai wajah ini untuk menjumpai kalian?”


"Perbedaan antara orang biasa dan orang besar adalah kemampuan mereka untuk memilih jalan yang sulit."
~ Ryuho Okawa

0 komentar: