Kamis, 02 September 2010

Bergunakah Diri Saya?


Jangan berusaha menjadi orang yang berhasil
Berusahalah menjadi orang yang berguna

- Sebuah pepatah


Pada suatu pagi dalam perjalanan, tak sengaja saya mendengarkan siaran radio. Di antara jeda iklan-iklan, seorang penyiar berkata, “jangan berusaha jadi orang yang berhasil. Tapi berusahalah jadi orang yang berguna.”

Lama saya merenungkan kalimat itu. Apa maksudnya ya?

Kemudian saya teringat peristiwa sebelumnya. Seorang teman dekat pernah curhat kepada saya. “Aduh, aku kesal banget sama bosku. Keluar kantor sebentar, langsung dicari-cari. Teman-teman sekantor juga sama nyebelinnya. Kalau aku tak ada, mereka terus-terusan menelepon atau sms. Minta dikasih tahu cara buat laporan-lah, minta ini-lah, minta itu-lah. Kapan ya aku bisa hidup tenang tanpa gangguan?”

Waktu itu saya cuma menanggapinya dengan senyum. Saya berkata singkat, “Itu berarti kamu dibutuhkan.”

Sekarang, setelah mendengar kata-kata penyiar di radio itu, saya jadi berpikir, seharusnya saya menyarankan teman saya itu bersyukur. Kenapa? Karena dia orang yang diinginkan. Kehadirannya selalu dibutuhkan, sampai-sampai ketika keluar kantor sebentar orang-orang langsung mencarinya. Itulah yang menurut saya orang yang berguna.

Bayangkan, bagaimana rasanya bila kita tidak dibutuhkan? Tidak dipedulikan? Kalau kita hadir di kantor, misalnya, orang lain tidak ‘nyadar’. Kalau kita tidak hadir, orang lain tidak merasa kehilangan. Pasti tidak menyenangkan, bukan? Rasanya sangat tidak diinginkan. Tidak berguna. Namun di dunia nyata, selalu ada saja orang yang demikian.

Sering saya mendengar ada teman yang bekerja di kantor dengan asal-asalan. Orang-orang datang pagi, dia baru muncul siang hari. Setiba di meja kerja, bukannya mengerjakan tugas, malah main game atau facebook-an. Kalau bos lewat, barulah pura-pura menulis laporan. Orang-orang masih sibuk menyelesaikan tugas, dia sudah beres-beres untuk pulang. Datang paling akhir, pulang paling awal. Kalau giliran makan, dia paling semangat. Tapi giliran bertugas, dia paling malas. Demikanlah kesehariannya. Perusahaan memang tidak memecatnya. Tapi bos dan teman-temannya jadi sebal padanya. Mereka menganggapnya cuma benalu saja. Orang tak berguna, begitulah ia dijuluki. Di dunia nyata, tidak sedikit orang yang seperti ini.

Sahabat, semoga kita tidak termasuk orang seperti itu ya! Meski kita bekerja di tempat nyaman, aman secara finansial, kita tidak boleh terlena. Orang lain bisa jadi tidak bisa menegur kita. Tapi apakah kita bisa menghindari teguran dari-Nya?

Sebagai muslim yang baik, tentu kita berharap untuk selalu mendapat ridho-Nya, meraih kecintaan-Nya. Dan saya pernah mendengar suatu hadits yang bunyinya begini:

"Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah orang yang paling berguna di antara mereka.”

Subhanallah. Alangkah indahnya hadits itu. Kita diberitahu, bila kita menjadi orang yang berguna, Allah swt akan mencintai kita!

Saya jadi mulai berpikir, sudahkah saya menjadi orang yang berguna? Seberapa bergunakah diri saya?

Saat saya pergi dari kantor satu atau beberapa hari, apakah saya dicari? Ataukah orang lain tak peduli meski saya lama pergi?

Apakah saya dibutuhkan, ataukah tidak apa jika diabaikan? Apakah sebuah sistem akan terhambat, ataukah dunia tetap berjalan seperti biasa bila saya tak ada?

Bermanfaatkah saya bagi dunia di sekeliling saya? Ataukah keberadaan saya hanya untuk memenuhi bumi saja?

Begitu banyak pertanyaan menyergap saya. Saya belum tahu jawabannya. Ini akan menjadi PR besar. Tapi yang pasti, saya tahu saya harus menjadi orang yang berguna. Yaitu ketika kita ada, orang lain menjadi senang. Ketika kita tidak ada, orang lain merindukan. Subhanallah. Alangkah indahnya menjadi orang yang seperti itu, bukan?

Saya jadi teringat kisah tentang nabi kita.

Ada seorang pedagang minyak wangi di Madinah yang sangat senang memandang wajah Rasulullah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah dulu ke rumah Rasulullah, dan dengan sabar menunggu sampai beliau keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia mengucapkan salam, memandang wajah beliau begitu lama, lalu setelah puas dia pun pergi. Begitu saja yang dilakukannya setiap kali pergi ke pasar. Suatu kali, ketika kembali dari pasar, orang itu datang lagi untuk melihat Rasulullah. Kali ini dia berkata, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya takut tidak bisa melihat engkau setelah ini.” Beliau mengizinkannya. Dan tak lama kemudian terdengar kabar pedagang itu meninggal dunia. Rasulullah pun terharu dan bersabda, “Kecintaannya kepadaku akan menyelamatkannya di hari akhirat.”

Rasulullah saw adalah contoh yang sangat dicintai. Ketika beliau hadir, para sahabat menjadi senang. Seperti pedagang minyak itu, yang tak pernah bosan memandang wajah Rasulullah sampai akhir hayatnya. Dan ketika beliau tak ada, para sahabat sangat merindukan. Banyak sekali kisah yang menjelaskan betapa besarnya kerinduan para sahabat kepada Rasulullah setelah beliau tiada. Contohnya adalah Bilal.

Bilal adalah sahabat Rasulullah yang dulunya seorang budak, kemudian dimerdekakan. Semasa hidup Rasulullah, Bilal selalu mengumandangkan adzan. Suara adzannya sangat indah. Akan tetapi ketika Rasulullah wafat, ia tidak mau beradzan lagi. Ia tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad Rasulullah” karena ada kata-kata Muhammad di situ. Suatu kali Fatimah mendesak Bilal untuk adzan karena rindu mendengar seruannya. Dengan berat hati, Bilal pun beradzan. Namun ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, ia berhenti. Ia menangis terisak-isak, lalu turun dari mimbar dan meminta izin pada Fatimah untuk tidak lagi membaca adzan. Mendengar suara adzan yang terhenti, seluruh Madinah berguncang karena tangisan kerinduan kepada Rasulullah Saw!

Sahabat, kita tidak mungkin bisa seperti nabi kita. Namun, menjadi orang yang dicintai baik ketika ada maupun tiada, bukanlah suatu hal yang mustahil. Bagaimana caranya? Sederhana, yaitu jadilah orang yang berguna.


Lalu, bagaimana caranya menjadi orang yang berguna?

Sulitkah? Rasanya tidak. Mari kita renungkan kelanjutkan hadits berikut:

"Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah orang
yang paling berguna di antara mereka. Dan perbuatan yang
paling dicintai oleh Allah ialah kegembiraan yang
dimasukkan ke dalam diri orang Muslim, atau menyingkirkan
kegelisahan dari diri mereka, atau membayarkan hutangnya,
atau menghilangkan rasa laparnya."

Sahabat, apa yang bisa kita ambil dari hadits di atas? Ya. Untuk menjadi orang yang berguna, kita bisa memulainya dari hal-hal yang sederhana. Menghibur teman yang sedang sedih, menjadi teman curhatnya, membuatnya kembali tertawa– segala sesuatu yang berkaitan dengan keseharian kita. Memaafkan kesalahan orang lain, menolong orang lain mengatasi kesulitan hidupnya, bersedekah, adalah perbuatan yang berguna. Mudah, bukan?

Saya jadi teringat seorang teman. Waktu itu saya dan tim diundang untuk memberikan pelatihan jurnalistik di luar pulau Jawa. Kami diberi fasilitas yang baik. Namun sayang, pihak perusahaan yang mengundang tidak bisa menyambut kami dengan optimal. Mereka sedang kekurangan tenaga, sehingga saya dan tim dibiarkan bekerja sendiri tanpa ramah tamah yang memadai. Padahal tim pelatih adalah orang-orang hebat dari kalangan media. Rasa kecewa pun sempat menyeruak di antara kami. Dan di saat itulah, tiba-tiba seorang perempuan tak dikenal hadir di tengah-tengah kami.

Dia masih muda, dan termasuk pengusaha kaya di kota itu. Dia sama sekali tidak ada hubungan dengan perusahaan yang mengundang. Dia hanya pernah kenal sepintas dengan salah satu dari kami. Namun dia langsung mengambil alih posisi menjadi ‘tuan rumah yang baik’. Kami diajak berkeliling kota itu, mengenal budaya dan tempat wisatanya, mentraktir makanan spesial, menceritakan dongeng-dongeng dengan riang. Tanpa kenal lelah dia menemani kami. Padahal dia sangat sibuk dengan bisnisnya, dan juga punya anak kecil di rumahnya. Tapi selama tiga hari lamanya, dia terus menjamu kami, mengajak berkunjung ke supermarket miliknya, membelikan oleh-oleh dan sebagainya. Sampai saatnya kami pulang, dia mengantar sampai bandara. Ketika tahu penerbangan ditunda, dia mengantarkan makanan supaya kami tidak bosan dan kelaparan. Ketika penerbangan dibatalkan, dia berjuang mengurus agen perjalanan agar saya dan tim bisa pulang hari itu.

Begitulah. Seorang yang tak dikenal, melimpahi kami dengan kebaikan, keramhatamahan, dan bahkan uang, tanpa mengharap balasan sedikit pun. Saya tidak tahu apa keuntungan yang dia peroleh dengan berbuat begitu. Ketika saya bertanya padanya, dia hanya menjawab, “Saya memang senang melakukannya.”

Sahabat, saya jadi iri kepada teman baru saya itu. Seumur hidup baru kali ini saya menemukan orang sebaik itu. Dia begitu penuh perhatian. Dia sudah sukses secara materi, namun tetap tidak melupakan satu hal, yakni menebar kebaikan bagi orang-orang, di sekitarnya, yang bahkan tak begitu dikenalnya.

Dari dia, saya jadi tahu bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai sesuatu. Hidup bukan hanya mencapai hasil. Namun lebih dari itu, sudahkah kita menjadi orang yang berguna? Orang yang membawa keceriaan bagi dunia di sekeliling kita.


Jadilah orang yang berguna!

Ya. Sahabat.

Allah swt telah menciptakan kita untuk menjadi rahmat. Sudahkah kita menjadi rahmat bagi orang-orang di sekitar? Apakah saat kita lewat, orang-orang akan menyadari kehadiran kita, merasakan manfaat kita? Ataukah kita tipe orang yang tak ‘terlihat’ dan ‘tak guna dilihat’?

Jangan biaran diri kita terabaikan, tak terlihat, seperti debu kecil lewat. Biarkan orang tahu bahwa kita ada, yakni dengan melakuan sesuatu yang berguna untuk mereka. Alangkah indah bila keberadaan kita menjadi rahmat bagi orang banyak.

Hadirlah…eksis-lah…biarkan orang menyadari kehadiran anda – bukan dengan banyak bicara sehingga kata-kata anda didengar, tapi dengan tindakan anda yang bermanfaat untuk sekitar. Meski anda pendiam, tidak banyak bicara, tapi bila menghasilkan karya yang baik, anda akan dilirik. Itulah esensi dari kata sukses. Benar kata penyiar tersebut, jangan berusaha menjadi orang yang berhasil, tapi berusahalah jadi orang yang berguna. Dengan menjadi orang yang berguna, anda pasti akan menjadi orang yang berhasil. Tidak hanya meraih keuntungan diri, namun juga meraih cinta sesama, dan yang terpenting dapat menggapai kecintaan dari-Nya.

Insya Allah…

Copyright@2009 by Elie Mulyadi.

0 komentar: