Senin, 16 November 2015

DIPAKSA MENIKAHI PEREMPUAN CANTIK

Seminggu lagi, aku akan menikah, tetapi hari ini aku masih di sini, kota besar, sendiri memikirkan nasib. Tidak ada uang, tidak ada mobil, tidak ada pekerjaan, tidak ada apa-apa selain, handphone murah, dan oh... handphoneku ini juga tak ada pulsanya.
Sewa kontrakan pun belum aku bayar, tetapi aku akan menikah seminggu lagi.
Acaranya sederhana, menikah dengan gadis kampung sebelah, di rumah keluarga gadis itu, dan aku juga tidak kenal siapa gadis itu. Orang tuaku yang mengaturnya, dan aku masih berpikir, mengapa orang tua gadis itu mau menikahkan anaknya dengan seorang laki-laki seperti aku.
Aku lelaki yang apabila ditanya apa kerjanya, aku tidak tahu bagaimana harus menjawab.
Aku memang bekerja, tetapi hanya kerja sambilan di hotel, membantu kawan-kawan yang berjualan online di internet, dan sesekali mengikuti seminar MLM.
Kebanyakan waktu dihabiskan duduk-duduk di kontrakan, menatap surat kabar untuk mencari kerja. Lalu, atas atas dasar apa ayah dan ibu gadis itu, mau menikahkan anaknya denganku, dan hantaran kawinnya, cuma senaskah Al Quran, dan mas kawin cuma Rp 250.000. Lebih mengherankan, semua biaya acara ditanggung oleh keluarga si gadis.
Kenapa? Aku semakin tidak mengerti, kok mau orang tua gadis itu, mengawinkan aku dengan anak perempuannya yang cantik, yang berkerudung rapi.
Ya, aku sudah melihat fotonya, dan karena kecantikannya, aku walaupun dengan semua keheranan itu, setuju juga dengan pernikahan yang diatur oleh keluarga ini. Ditambah, perempuan itu lulusan universitas luar negeri, berkerja sebagai pegawai negeri yang gajinya, cukup untuk membayar angsuran mobil BMW.
Pada mulanya, aku pikir aku ibarat tikus yang jatuh ke dalam gudang beras, tapi ketika acara semakin dekat, aku mulai berpikir, mungkin ada yang disembunyikan oleh keluarga si gadis. Apakah foto yang diberi sama dengan wajah asli perempuan itu?
Apakah perempuan itu sebenarnya janda? Atau yang paling menakutkan, jangan-jangan perempuan itu sedang mengandung anak orang lain, dan aku menjadi 'ayah' untuk anak itu.
Dari sinilah kisahku dimulai.

***Tengah hari itu aku nekat pulang ke kampung halaman. Aku nekat, mencari tahu latar belakang calon istriku, dan mengapa ibu bapaknya, mau melepaskan anaknya kepada laki-laki seperti aku.
Cuma, aku tidak tahu bagaimana cara untuk mencaritahu. Selama di dalam bus, aku beruntung duduk di sebelah seorang laki-laki yang ramah.
Kepada laki-laki itu aku bertanya, “Bagaimana cara cari tahu latar belakang calon istri kita?”
Mudah kok. Kalau dia ada FB, buka FB dia, atau cari saja nama lengkapnya di internet.
Nanti ada lah informasi tentang dia. Kalau susah, pergi tempat kerjanya, tanya kawan-kawannya, atau tanya saudara-saudaranya.
Untuk mencari tahu tentang calonku itu di internet, nama lengkapya saja aku tidak tahu.
Aku cuma diberitahu, namanya Sarimah.
Berapa banyak orang punya nama Sarimah di internet? Banyak! Lalu aku ambil nasihat kedua dari laki-laki itu, tanya rekan-rekan sekerjanya, dan mujur aku tahu gadis itu bekerja di kantor Bappenas.
Sampai di kampung, aku pinjam motor ayah, lalu pergi ke kantor Bappenas. Aku tidak tahu apa jabatannya, tetapi kantor sebesar itu, pasti banyak orang yang namanya sama.
Tetapi agak tidak logis juga kalau aku langsung masuk ke kantor dan bertanya tentang calon istriku. Lalu akhirnya aku ambil keputusan menunggu dan memperhatikan di seberang jalan.
Aku pikir, mungkin pada waktu makan tengah hari, Sarimah dan kawan-kawannya akan keluar, dan apabila sudah ingat wajah kawan-kawannya, setelah pulang nanti boleh lah saya tanya tentang Sarimah. Itulah rencanaku, rencana yang diatur dengan baik.
Lalu aku pun duduk di atas motor menghadap kantor Bappenas yang cuma satu beberapa meter di depanku.
Kemudian datang pula rasa menyesal, sebab pada jam 11 pagi, cuaca sudah terik.
Di situ belum ada pohon yang rindang, karena semuanya baru saja dipangkas dahannya.
Sudah panas terik, satpam di luar kantor mulai memperhatikanku. Bukan Cuma satpam, malah orang yang lalu lalang di situ turut memperhatikan. Aku lupa, jam kantor seperti itu, segala perbuatan yang tidak biasa akan jadi perhatian. Perbuatanku, yang duduk di depan kantor bukan perkara biasa. Nampak terlalu aneh.Akhirnya, aku semakin menyesal karena dari jauh aku lihat seorang perempuan keluar dari kantor. Semakin dekat perempuan itu, semakin aku berdebar.
Wajahnya semakin jelas, dengan kerudungkuning muda, dan baju kurung biru muda.
Dia adalah calon istriku, yang Cuma aku kenal namanya.
Sarimah.
Hanya itu.
Aku sempat berpikir untuk menghidupkan motor dankemudian pergi dari situ.
Tetapi semuanya sudah terlambat, kemudian Sarimah berkata, “Kamu Salman?” Aku memberikan senyuman yang paling terpaksa pernah aku buat.
Lebih terpaksa daripada senyum terpaksa apabila bertemu dengan guru semasa sekolah dahulu.“Ya, saya. Kok kamu bisa tahu?” “Kawan di kantor yang beritahu, katanya ada laki-laki di sebearang jalan.
Mereka menggodaku, katanya mungkin aku kenal, dan aku pikir wajahmu sama dengan foto yang ditunjukkan oleh ibu. ”Satu kantor pun tahun aku menunggu disini?! Duh! Payah betul caraku mencari informasi ini.
Kemudian aku memerhatikan wajah Sarimah, dan ternyata wajah aslinya jauh lebih cantik daripada wajah di foto.
Mungkin karena itu pass foto. Orangtuanya punhanya memberikan satu foto. Entahlah, ibu dan ayahku pun mungkin memberikan pass fotoku.
Ketika itu juga aku merasa jantungku berdebar, karena saat mengambil foto itu, aku baru saja bangun tidur.Aku perhatikan pula perutnya, tetapi tidak nampak ada tanda-tanda perempuan mengandung.
Saat aku memperhatikan, terasa tangannya menyilang menutupi perutnya, dan aku malu karena ketahuan memperhatikan perutnya. Pasti dia sadar kalau aku memperhatikan perutnya, entah apa yang dia pikirkan sekarang.
Aku rasa, Sarimah ini adalah perempuan yang berani. Berani untuk keluar berjumpa denganku. Kalau perempuan lain, tentu mereka tidak berani.
Barulah aku sadar, inilah pertemuan pertamaku dengan calon istri aku. Pertemuan dalam keadaan yang agak aneh.
Selepas pertanyaan itu, kami terdiam. Kami hanya berdiri di tepi jalan raya, sambil memandang ke arah yang sebenarnya agak aneh untuk dipandang. Aku memandang ke ujung jalan, dan Sarimah memandang ke arah motor ayahku. Aku tahu, ini keadaan yang tidak betul dan aku sebagai laki-laki perlu menunjukkan contoh yang baik kepada calon istriku. Jadi, selepas puas berpikirdan memberanikan diri, aku berkata, “Sudah makan?”“Saya sedang diet. ”Nasib baik bagiku dia bilang sedang diet.
Bagaimana kalau dia bilang, ayo kita makan, aku akan sangat jahat sekali, karena di dalam dompetku cuma ada uang dua puluh ribu rupiah. Mana cukup. Setelah itu, keadaan kembali sepi.
“Aku mau kembali ke kantor,” kata Sarimah sopan dan membuatku lega.“Aku juga mau pulang,” balasku, dan ternyata, rasa legaku tidak berlangsung lama.
“Malam ini datanglah ke rumah.” “Datang ke rumahmu?”
“Iya, makan malam dengan keluargaku.”
Aku terdiam. Berdebar-debar.“Jemputlah sekalian ayah dan ibumu kalau mereka tidak ada halangan.”
“Baiklah, selepas maghrib insya Allah aku sampai.”

***Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa tidak puas hati dengan diriku. Mengapa aku tiba-tiba menjadi kaku? Seharusnya, pada waktu itulah aku banyak bertanya dan mencari tahu kenapa dia dan keluarganya memilih aku.
Cuma malam ini aku merasa sedikit bingung. Alamatrumah Sarimah, aku bisa tanya ayahku, tapi mungkinkah aku patut bawa ayah dan ibuku sekaligus? Tidak.. Tidak.... Bukannya aku tidak mau, biasanya kalau ada ibu, habis semua rahasia anaknya dia ceritakan.
Beliau senang sekali menceritakan rahasia anaknya.
Lagipula aku ada banyak rahasia yang tidak patut Sarimah dan orangtuanya tahu. Rahasia yang palingaku takuti dibocorkan oleh ibu adalah hampir setiap bulan aku masih meminta uang kepada ibuku. Memang memalukan, tetapi untuk pergi seorang diri, aku juga tidak berani.Akhirnya, aku punya ide paling bagus. Aku melajukan motor ayah langsung ke rumah kawan lamaku, Rudy.
Bukan sekedar kawan lama, tetapi juga sahabat karib. Aku yakin dia ada di rumah, karena dia juga senasib denganku, belum ada pekerjaan tetap. Bedanya, dia bertarung hidup di kampung, dan aku bertarung hidup di kota.Sesampainya di rumah Rudy, aku lihat Rudy sedang duduk di tangga sambil bermain gitar.
Itulah kemampuan Rudy yang sangat aku cemburui. Aku tidak pandai bermain gitar, bahkan tak tahu caranya.... oh... ada lagi rupanya kemahiran Rudy yang tidak aku miliki. Rudy pandai menggoda gadis dengan bermain gitar, dan Rudy sangat berani berhadapan dengan perempuan, tidak seperti aku.
Itulah akibatnya, aku tidak punya keyakinan apabila berhadapan dengan perempuan.“Lama banget kau gak muncul,” kata Rudy saat aku duduk di sebelahnya.
“Masa lama sih. Baru juga dua bulan lebih.”
“Lama itu.”
Aku diam, dan coba mendengarkan petikan gitar lagu rock terkenal, 'Suci Dalam Debu'. Aku coba menyusun kata untuk mengajaknya menemaniku malam ini, tetapi belum ada kata yang bagus.
“Aku dengar seminggu lagi kau mau nikah. Kok gak ngundang?” kata Rudy, dan itu secara tidak langsung memberikanku jalan untuk melaksanakan rencanaku.
“Ini acara pihak perempuan, jadi mereka cuma ngundang kerabat perempuan aja.”
“Kerabatmu gimana?” Aku diam, karena aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya. Sebab dengan keuanganku sekarang, hidang mie goreng kepada tamupun aku tidak mampu.
“Lihat nanti saja lah. Kalau nanti kau sampai ke rumah ku, kau pergi dulu saja.”
Rudy semakin mengencangkan petikan gitarnya. Kini lagu Adele pula, 'Someone like you'. Entah mengapa, lagu yang temanya kecewa saja yang dia mainkan saat ini.
“Dia cantik gak?” Rudy memandang dengan senyuman penuh berharap.“Cantik.”
“Gimana bisa kenal dia?”
Senyuman Rudy kini semakin tinggi harapannya. Harapan jenis apa aku tidak tahu. Mungkin harapan untuk melihat aku bahagia. Walaupun aku merasa seperti Rudy pasti berpikir tidak logis aku mendapatkan gadis cantik.
“Ayah dan ibuku yang menjodohkan. Aku terima saja.”
“Kau belum pernah ketemu dia?”
“Baru tadi.”
“Memang dia cantik?”
“Memang cantik.”
Rudy kini memperlihatkan wajah orang yang sedanggusar dan berpikir panjang.
“Apa pekerjaannya?”
“Pegawai di Bappenas. Aku tidak tahu jabatannya. Tetapi ibuku bilang, dia punya jabatan cukup tinggi.”
“Hmm... Dia cantik, pekerjaan bagus, tapi kok dia mau kawin denganmu? Heran.”
Aku menelan liur. Nampaknya Rudy juga sudah merasa ada sesuatu yang tidak benar. Dia pandangi wajahku.
Rudy menyambung, “Kau, ganteng juga nggak. Heran-heran.”
Aku tersenyum pahit. Aku akui, aku memang tidak tampan dan itu pun sebenarnya merisaukanku juga.
“Kau tidak heran?” tanya Rudy.
“Ya heran juga sih.”
“Kau sudah periksa latar belakang perempuan itu?”
Aku pandangi wajah Rudy. Akhirnya peluangku tiba.
“Malam ini kau ikut aku. Temani aku ke rumah calonku itu.”
“Hah? Buat apa?” Rudy memandang heran.“
Dia ajak aku makan malam di sana. Ketemu dengan ayah dan ibunya. Nanti itu, baru akan aku cari tahu latar belakangnya.”
“Kau pergi sajalah sendiri.”
Rudy kembali memetik gitar.“
Kamu kayak gak tahu aku. Aku segan. Aku butuh kamu temani aku. Kamu kan berani, mungkin kamu bantu aku kepo juga.”
“Kepo? Kepoin apa?”
“Tanyain lah hal-hal yang bisa ditanyain. Kamu kan berpengalaman dalam dunia percintaan. Pasti bisa bantu aku.”Akhirnya, setelah lama aku bujuk, Rudy pun setuju.

***Malam itu, walaupun aku sudah salin alamat dari ayahku, tetap saja aku tersesat. Aku sampai selepas Isya, bukannya selepas Maghrib. Aku lihat makanan sudah terhidang di atas meja, dan nampak sudah dingin.
Mungkin perut Sarimah dan orang tuanya juga sudah lapar.
“Maafkan saya karena terlambat.”
“Gak apa-apa, masuklah,” kata seorang lelaki yang sebaya ayahku. Mungkin dia adalah ayah Sarimah dan calon ayah mertuaku.
“Ooo... Ini dia Salman. Ayahmu bilang kamu akan pulang lusa, kok cepat bener baliknya?” tegur seorang perempuan, yang aku yakin adalah ibu Sarimah.
“Ada yang harus diurus dulu di rumah,” balasku dan kemudian berkata, “Kenalkan ini kawan saya Rudy. Ibu dan ayah saya tidak bisa datang.”
Kemudian, Sarimah keluar dari dapur dan dia kelihatan sangat cantik. Tertegun aku dan aku sempat melihat wajah Rudy yang ikut tertegun.
“Beruntung kamu,” bisik Rudy.Selepas makan, kami duduk di ruang tamu dan padawaktu itulah, aku lirik-lirik Rudy supaya mulai menjalankan rencananya.
“Kata Salman, ini pertama kali dia berjumpa dengan bapak dan ibu ya. Malah dengan Sarimah pun baru tadi ketemu.” kata Rudy, dan aku mulai berdebar-debar.
“Iya, ini pertama kalinya. Sebelumnya, kami lihat wajahnya dalam pass foto yang diberi oleh ibunya.” jawab ayah Sarimah.Aku semakin berdebar-debar.
Ibuku ngasih pass foto? Ah, sudah! Matilah aku!
“Tidak sangka, orang aslinya ganteng juga.” sambung ibu Sarimah.
Aku mulai merasa pipiku panas. Jarang sekali ada orang yang memuji aku tampan. Kalaupun ada, pastiada maksudnya. Atau mungkin, ibu Sarimah hanya ingin menjaga perasaanku.
“Itulah saya heran. Karena Salman bilang, orangtuanya yang mengatur. Gak nyangka, zaman sekarang masih ada ya pernikahan yang diatur oleh orang tua. Apa rahasianya Pak?”
Rudy memang tidak menunggu lama, terus saja dia bertanya sambil ketawa-ketawa kecil. Jadi, walaupun ini persoalan serius, tetapi ia nampak seperti bergurau.
“Tidak ada rahasia apa-apa. Emang Salman gak ngasih tahu kamu?”
Rudy memandangiku, kemudian dia pandangi ayah Sarimah dan menggeleng.
Lalu aku bilang, “Sebenarnya saya pun tidak tahu apa-apa.”
“Kamu tidak tanya ayah dan ibumu?”
Pada saat itulah, aku mulai merasa menyesal. Ya, aku tidak tanya pun kepada ayah dan ibuku mengapa beliau memilih Sarimah. Yang aku tahu, ibuku cuma tanya, “Mau ibu carikan kamu jodoh?” Aku pun menjawab, “Boleh.”
Tiba-tiba, dua minggu kemudian, aku sudah bertunangan dan dalam satu bulan akan menikah. Itupun tunangan pakai uang ibuku. Memalukan betul.
“Saya tidak tanya.”Ayah Sarimah mulai ketawa kecil.
“Begini, saya dan ayah kamu itu memang sudah lama kenal. Suatu hari, ngobrol-ngobrol di kedai kopi, kami bercerita tentang anak masing-masing, kemudian bercerita tentang jodoh, dan akhirnya, terus kepada rancangan mau menjodohkan anak masing-masing. Setelah itu, inilah yang terjadi,
” jelas ayah Sarimah.“
Begitu saja Pak? Mudah sekali ya!” Rudy nampak terkejut, dan aku pun sebenarnya agak terkejut juga. Ya, mudah sekali ternyata.
Ibu dan ayah Sarimah hanya tersenyum lebar.
Ayahnya berkata, “Tidaklah semudah itu. Kami pun mau yang terbaik untuk anak bungsu kami. Kami pun mencari tahu latar belakang Salman.”
“Jadi Bapak tahu Salman ini menganggur dan tidak punya duit?” tanya Rudy, membuat aku geram tetapi dalam saat yang sama merasa sangat malu.
Tiba-tiba aku berdoa supaya tubuhku menjadi kecil, supaya aku bisa menyembunyikan bukan saja muka, tetapi seluruh tubuhku di balik bantal.
“Tahu,” jawab ayah Sarimah sambil ketawa kecil lagi.“
Jadi?” Rudy bertanya sambil memutar tangan kanannya.
Aku rasa, sebenarnya Rudy mau bilang, “Jadi, mengapa masih pilih Salman?”
Mungkin karena tidak sampai hati, dia cuma pakai isyarat tangan saja. Ya, aku tahu betul sebab sudah lama aku kenal Rudy.
“Itulah yang diberitahu oleh ayahnya. Katanya, anak dia tidak tampan, tidak ada pekerjaan tetap, dan malah, bulan-bulan masih minta duit dari ibunya. Tetapi, dari situlah Bapak tahu, Salman ini akan menjadi suami yang baik.”
Ayah Sarimah tidak lagi tersenyum, sebaliknya memandangku dengan wajah serius. Aku terus menunduk malu. Malunya aku. Rupanya mereka sudah tahu kalau aku ini masih minta duit selama berbulan-bulan kepada ibuku.
“Jadi?”
Rudy sekali lagi menggerak-gerakkan tangannya.
“Ayahnya juga bilang, anaknya sering menelepon kampung, paling tidak dua kali seminggu. Dan, walaupun dia tidak punya pekerjaan tetap, kerjanya pun tidak menentu dengan gaji yang kecil, tetapi setiap kali mendapat gaji, ayahnya memberitahu, dia tidak pernah lupa memberikan sedikit kepada ibunya. Walaupun cuma dua ratus ribu. Jadi, bayangkan walaupun hampir tiap bulan dia kekurangan uang, tapi dia masih mau membantu orang tua. Itulah namanya tanggung jawab!”
Aku tertegun.
Aku sebenarnya tidak menyangka ayahku menceritakan perkara itu juga kepada ayah Sarimah.
“Ooo... Tanggung jawab,”
Hanya itu kata Rudy sambil mengangguk-angguk.
Ayah Sarimah menyambung perkataannya, “Tanggung jawab itu, bukan saat kita kaya saja. Tanggung jawab itu adalah sesuatu yang kita pegang disaat kita susah dan disaat kita senang. Lalu, dalam rumahtangga, tidak selamanya senang. Lebih banyak saat susahnya. Jadi, Bapak akan lega, karena tahu anak Bapak berada dalam tangan laki-laki yang bertanggungjawab.”
“Betul juga ya Pak. Lagi pula, Salman ini setahu saya dia tidak pernah lupa shalat dan tidak punya pacar, karena dia takut perempuan, hehe.” tambah Rudy yang membuat aku tersipu-sipu.
Tidak kusangka Rudy memujiku.“Shalat itulah perkara utama yang Bapak tanya kepada ayahnya, dan pacar pun Bapak tanya.”
Ayah Sarimah kembali tertawa kecil.“Susah mau cari orang seperti Bapak di zaman ini.
Zaman sekarang, semua mau menantu kaya,” tambah Rudy lalu terlihat wajahnya tiba-tiba murung. Mungkin dia sedang bercerita tentang dirinya sendiri secara tidak sadar.
“Dulu, waktu Bapak menikahi ibu Sarimah, hidup Bapak pun susah. Bapak juga orang susah, cuma bekerja sebagai pembantu pejabat, sedangkan ibu Sarimah itu anak orang kaya di kampung. Alhamdulillah, keluarga istri Bapak termasuk yang terbuka. Lalu, kenapa Bapak tidak memberi peluang kepada orang yang susah, sedangkan Bapak dulu pun diberi peluang. Yang penting, dia susah bukan karena dia malas, tetapi karena memang belum rezeki. Beda sekali, orang malas dengan orang yang belum ada rezeki. Kalau susah karena duduk-duduk di rumah dan tidur berguling-guling, memang Bapaktidak akan terima,” jelas ayah Sarimah dengan panjang lebar.
Aku berasa mulai sedikit lega. Tidak kusangka, begitu pikiran ayah dan ibu Sarimah. Perlahan-lahan,perasaan maluku itu mulai berkurang. Perlahan-lahan juga, perasaan curigaku kepada Sarimah ikut berkurang.
“Anak Bapak hebat juga. Dia mau nurut kata Bapak. Zaman sekarang, biasanya semuanya sudah punya pacar,” kata Rudy.
Aku tahu, Rudy juga sedang memasang umpan untuk mengetahui latar belakang Sarimah sekaligus. Aku kembali berdebar-debar.
“Alhamdulillah. Bapak sangat bersyukur diberi anak seperti Sarimah. Awalnya, Bapak khawatir juga, tetapi setelah satu minggu, Sarimah bilang setuju. Cuma Bapak tidak tahu apa yang membuat diadia setuju, mungkin Salman bisa tanya dia sendiri setelah menikah nanti,” kata ayah Sarimah, lalu dia, istrinya dan Rudy tertawa bersama. Tinggal aku dan Sarimah saja yang duduk diam-diam malu. Sempat aku melirik Sarimah, dan bertanya dalam hati, “Mengapa kamu mau dengan lelaki seperti aku?'

***Alhamdulillah.
Allah mudahkan usaha kami. Aku sudah sah menjadi suami Sarimah, dan setelah bersalaman dengan Sarimah, rasa gentar dan maluku kepada Sarimah mulai berkurang. Malah aku mulai memanggilnya, 'sayang'.
Lalu setelah resepsi, aku dan Sarimah masuk ke dalam kamar, berdua-duan untuk pertama kalinya.Dalam hati, masih kuingat pertanyaanku pada malam aku bertemu ayah dan ibu Sarimah. Kini pertanyaan dalam hati itu aku nyatakan dengan lidah, “Sayang, mengapa kamu setuju untuk menikah dengan laki-laki sepertiku? Laki-laki yang belum tentu masa depannya, dan mungkin juga membuat dirimu menderita.
”Tidak kusangka, pertanyaan melalui lidahku menjadi lebih panjang dan detil dari pertanyaan dalam hati.
Sarimah yang saat itu sedang duduk malu-malu, memandangku lalu mencium tanganku, dan berkata, “Ampuni Sarimah bang, ampuni Sarimah.”
Aku mulai berdebar-debar dan tidak enak hati.
“Ampuni apa sayang?”
“Sebab, Sarimah sebenarnya sempat curiga juga dengan Abang. Sarimah sempat tidak yakin dengan Abang. Malah Sarimah minta tolong kawan Sarimah, yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan Abang di kota supaya mencari tahu latar belakang Abang.
Malah, Sarimah juga solat iskhtikarah hanya karena ragu-ragu kepada Abang.”
Debar jantungku kembali menurun. Rupanya, Sarimah lebih dulu mencari tahu latar belakangku? Malunya aku. Tetapi sekarang dia sudah jadi istriku, lalu aku angkat kepalanya dan kupandangi matanya.
“Abang ampunkan. Abang pun minta maaf, sebab Abang pun pernah juga berasa curiga kepadamu.”
Sarimah tersenyum. Bukan senyum manis biasa, tetapi senyuman seorang perempuan yang bahagia, dan senyuman itu sangat ajaib karena ikut membuataku merasa bahagia. Mungkin inilah perasaan bahagia yang datang karena kita membahagiakan orang lain. Tetapi pertanyaanku tadi masih belum terjawab sepenuhnya.
“Jadi, apa kata kawanmu?”
lanjutku ingin tahu. Aku risau, takut kawannya membicarakan yang tidak-tidak.
“Katanya, Abang ini tidak punya pekerjaan tetap. Motorpun pinjam punya teman, tapi katanya dia selalu melihat Abang membaca koran untuk mencarikerja, mengirim surat lamaran, dan selalu memeriksa kotak surat kalau-kalau ada surat lamaran yang dibalas. Maksudnya, Abang ini orang yang rajin berusaha. Katanya lagi, dia tidak pernah melihat Abang keluar dengan perempuan. Shalat pun pasti Abang berjamaah.”
Aku mulai tersipu malu. Takut ketahuan kalau aku tersipu, aku pun bertanya, “Tetapi orang secantik dirimu pasti banyak orang yang tertarik kan? Pasti banyak yang mau meminang dirimu, dan mungkin pasti juga yang ada sudah datang ke rumah untuk meminang.”Sarimah sekali lagi tersenyum.“
Ya, memang banyak laki-laki yang mencoba dekat dengan Sarimah, tetapi Sarimah sangat takut. Sarimah ingat dengan kakak”
“Mengapa dengan kakak, sayang?” tanyaku segera. Sarimah pun bercerita panjang lebar, dan aku baru tahu kalau kakaknya sudah meninggal. Kakak Sarimah dulu juga seorang perempuan cantik, dan banyak laki-laki yang meminangnya. Akhirnya, dia menikah dengan lelaki pilihan hatinya sendiri. Laki-laki yang tampan, berpendidikan tinggi, dan bekerja dengan gaji yang lumayan. Sayangnya, setelah satu tahun menikah, suami kakaknya mulai berubah karena belum juga mendapatkan anak. Dia mulai pulang terlambat, dan suka marah-marah.Bahkan, suaminya sampai di PHK karena krisis ekonomi.
Hidup mereka menjadi susah, dan suaminya juga semakin banyak berubah. Dia sudah tidak pulang berhari-hari, apabila pulang, hanya untuk meminta uang, marah-marah dan memukul istrinya. Kemudian terungkaplah bahwa selama ini suami kakaknya itu sudah memiliki perempuan lain. Lalu pada hari itu, dengan hati yang kusut, kakak Sarimah gagal mengendarai mobilnya hingga kecelakaan dan meninggal dunia.
Diakhir ceritanya itu, aku langsung menggenggam tangan Sarimah erat-erat.
“Karena itulah, Sarimah takut kalau mau menerima laki-laki sembarangan dalam hidup Sarimah. Malahan, Sarimah juga sebenarnya sudah mengamanahkan ayah dan ibu untuk mencari laki-laki yang sesuai untuk Sarimah. Biar tidak kaya, biar tidak tampan, tetapi lelaki itu mampu membahagiakan hidup dengan kasih sayang dan mendamaikan hati dengan agama.”Akhirnya, semuanya sudah jelas. Kenapa ayah dan ibu Sarimah memilih laki-laki sepertiku, dan mengapa Sarimah menerimaku dalam hidupnya. Genggaman tanganku semakin kuat.
“Abang... Tolong jaga Sarimah. Jaga dan mohon jangan lukai hati Sarimah. Mohon bang,” rayu Sarimah dan air matanya pun mulai menggenang, dan kemudian menetes di pipinya yang cantik.
Aku segera menyeka air mata Sarimah.
“Abang bukanlah laki-laki terbaik, dan Abang tidak mampu berjanji menjadi suami yang terbaik untukmu. Abang cuma mampu berjanji, Abang berusaha menjadi laki-laki yang terbaik itu, dan berusaha menjadi suami yang terbaik untukmu,” kataku perlahan, dan Sarimah terus memelukku. Akumerasa, bahuku sudah basah dengan air mata Sarimah.

Karya : Bahruddin Bekri

Sabtu, 09 Agustus 2014

Nasehat Perkawinan

1. KETIKA AKAN MENIKAH. Janganlah mencari
isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita.
Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi
anak-anak kita

2. KETIKA MELAMAR. Anda bukan sedang
meminta kepada orang tua/wali si gadis, tetapi
meminta kepada Allah melalui orang tua/wali si
gadis

3. KETIKA AKAD NIKAH. Anda berdua bukan
menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah
di hadapan Allah

4. KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN. Catat dan hitung
semua tamu yang datang untuk mendoakan
anda, karena anda harus berfikir untuk
mengundang mereka semua dan meminta maaf
apabila anda berfikir untuk BERCERAI karena
menyia-nyiakan doa mereka

5. SEJAK MALAM PERTAMA. Bersyukur dan
bersabarlah. Anda adalah sepasang anak
manusia dan bukan sepasang malaikat

6. SELAMA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA.
Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak
melalui jalan bertabur bunga, tapi juga semak
belukar yang penuh onak dan duri

7. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG. Jangan
saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru
semakin erat berpegang tangan

8. KETIKA BELUM MEMILIKI ANAK. Cintailah isteri
atau suami anda 100%

9. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK. Jangan bagi
cinta anda kepada (suami) isteri dan anak anda,
tetapi cintailah isteri atau suami anda 100% dan
cintai anak-anak anda masing-masing 100%.

10. KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUM
MEMBAIK. Yakinlah bahwa pintu rizki akan
terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat
ketaatan suami & isteri

11. KETIKA EKONOMI MEMBAIK. Jangan lupa
akan jasa pasangan hidup yang setia
mendampingi kita semasa menderita

12. KETIKA MENDIDIK ANAK. Jadilah teladan yang
baik bagi anak-anak dalam kehidupan rumah
tangga

13. KETIKA ANDA ADALAH SUAMI. Boleh
bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa
untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila
isteri membutuhkan pertolongan Anda

14. KETIKA ANDA ADALAH ISTERI. Tetaplah
berjalan dengan gemulai dan lemah lembut,
tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua
pekerjaan.Orang tua yang baik adalah orang tua
yang tidak pernah marah kepada anak, karena
orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur
kepada anak

15. KETIKA ANAK BERMASALAH. Yakinilah bahwa
tidak ada seorang anakpun yang tidak mau
bekerjasama dengan orangtua, yang ada adalah
anak yang merasa tidak didengar oleh orang
tuanya.

16. KETIKA ADA PIL. Jangan diminum, cukuplah
suami sebagai obat.

17. KETIKA ADA WIL. Jangan dituruti, cukuplah
isteri sebagai pelabuhan hati.

19. KETIKA INGIN LANGGENG DAN HARMONIS
Gunakanlah formula 7 K: Ketaqwaa, Kasihsayang, Kesetiaan, Komunikasi, Keterbukaan, Kejujuran dan Kesabaran.

http://goo.gl/cC0tvD

Kamis, 31 Maret 2011

Hikmah dibalik Musibah

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah atas nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Musibah Pada dasarnya merupakan sesuatu yang begitu akrab dengan kehidupan kita. Adakah orang yang tidak pernah mendapatkan musibah? Tentu tak ada. Musibah adalah salah satu bentuk ujian yang diberikan Allah kepada manusia. la adalah sunnatullah yang berlaku atas para hamba-Nya. la bukan berlaku pada orang-orang yang lalai dan jauh dari nilai-nilai agama saja. Namun ia juga menimpa orang-orang mukmin dan orang-orang yang bertakwa. Bahkan, semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, maka semakin berat ujian dan cobaan yang diberikan Allah kepadanya. Karena Dia akan menguji keimanan dan ketabahan hamba yang dicintai-Nya.Sebagai contoh, bangsa kita tercinta sekarang ini sedang dirundung dan didera dengan berbagai musibah, mulai dari gelombang tsunami, lumpur lapindo, flu burung, busung lapar, gizi buruk, harga melonjak ditambah seabreg permasalahan nasional yang tak kunjung teratasi, akan tetapi sayangnya sedikit yang bisa mengambil hikmah dari musibah yang sedang kita derita.
Ujian yang semestinya mendongkrak kualitas keimanan dan mengantar pada keberkahan temyata sering membawa kepada murka Allah. Tak lain karena orang yang terkena, musibah tak mampu bersikap benar saat menghadapinya.
Sesungguhnya di balik musibah itu terdapat hikmah dan pelajaran yang banyak bagi mereka yang bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah yang telah mentakdirkan itu semua untuk hamba-Nya, diantara hikmah yang bisa kita petik antara lain adalah:

1. Musibah akan mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.
Allah Ta'ala berfirman:

وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

artinya, “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS asy Syura: 30)



Dalam ayat ini terdapat kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah merupakan hukuman atas dosa-dosa kita.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhubahwa Nab SAW bersabda:
”Tidak adapenyakit,kesedihan dan bahaya yang menimpa seorangmukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu”.(HR. Bukhari)

Dalam hadits lain beliau bersabda:
“Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”
Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat.

Itu merupakan balasan dari musibah yang diderita oleh seorang hamba sewaktu di dunia, sebab kegetiran hidup yang dirasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat dan sebaliknya. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”Dan dalam hadits lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR .Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan).
3. Sebagai parameter kesabaran seorang hamba.

Sebagaimana dituturkan, bahwa seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar.

Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya, namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.
Anas Radhiallaahu anhu meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”
Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan ditulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah maka dia akan ditulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba maka setiap ketetapan Allah yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).

4- Dapat memurnikan tauhid dan menautkn hati kepada Allah.

Wahab bin Munabbih berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.” Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah berfirman

وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى اْلإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَئَا بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ

artinya, “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon.
Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita. Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah saja sebagiamana dilakukan oleh Nabi Ayyub 'Alaihis Salam yang berdoa,

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al Anbiyaa :83)

5. Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya.

6. Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala.

Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap,dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya


Dia tak akan mampu menguasai kematian, terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

7. Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah

8. Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah n bersabda, ”Barang siapa yang dikehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al Bukhari).
Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

Dikutip dari Ibnu Muqlah

10 Ways to Overcome Stress

There is an insidious problem that can sneak into your life and turn it upside down. It can wreck your health, your relationships and your career.

As you probably guessed, I am talking about stress. Yes, we’re all exposed to it, but we don’t have to become infected. Leo Babauta of Zen Habits put together his top 10 list of stress busters and I wanted to share it with you.

Stress is a major problem for many people — a hectic, stressful job, a chaotic home life, bills to worry about, and bad habits such as unhealthy eating, drinking and smoking can lead to a mountain of stress.

If your life is full of stress like mine once was, there are some simple things you can do to get your life to a more manageable level.

Now, your life will probably never be stress-free — I don’t think that’s even desirable, even if it is possible, because stress is something that challenges us and helps us grow at a reasonable level. But when stress gets too high, it causes us to be unhappy and unhealthy.

It wasn’t that long ago when I was working long hours in a very stressful job, with little time for my family. I had a lot of debt and too many bills. I was unhappy and stressed out all the time.

So I made some drastic changes. I quit my job. I simplified my life. I started exercising and eating healthier. I began to eliminate my debt. And I learned some habits that, when applied on a daily basis, can really transform the way you live, in a positive way.

How did I do all of this? One thing at a time. I didn’t do a major overhaul of my life. I changed one habit a month, and gradually over the course of a year or two changed a lot of things in my life.

I won’t guarantee that all of these will work for you. They worked for me, but each person is different. Pick and choose the ones that will work best for you, and give them a try. One at a time.

1. One thing at a time. This is the simplest and best way to start reducing your stress, and you can start today. Right now. Focus as much as possible on doing one thing at a time. Clear your desk of distractions. Pick something to work on. Need to write a report? Do only that. Remove distractions such as phones and email notifications while you’re working on that report. If you’re going to do email, do only that. This takes practice, and you’ll get urges to do other things. Just keep practicing and you’ll get better at it.

2. Simplify your schedule. A hectic schedule is a major cause of high stress. Simplify by reducing the number of commitments in your life to just the essential ones. Learn to say no to the rest — and slowly get out of commitments that aren’t beneficial to you. Schedule only a few important things each day, and put space between them. Get out of meetings when they aren’t absolutely essential. Leave room for down time and fun.

3. Get moving. Do something each day to be active — walk, hike, play a sport, go for a run, do yoga. It doesn’t have to be grueling to reduce stress. Just move. Have fun doing it.

4. Develop one healthy habit this month. Other than getting active, improving your health overall will help with the stress. But do it one habit at a time. Eat fruits and veggies for snacks. Floss every day. Quit smoking. Cook something healthy for dinner. Drink water instead of soda. One habit at a time.

5. Do something calming. What do you enjoy that calms you down? For many people, it can be the “get moving” activity discussed above. But it could also be taking a nap, or a bath, or reading, or having sex (which can also be considered a “get moving” activity if you do it for longer than 5 minutes). Other people are calmed by housework or yard work. Some people like to meditate, or take a nature walk. Find your calming activity and try to do it each day.

6. Simplify your finances. Finances can be a drain on your energy and a major stressor. If that’s true with you, figure out ways to simplify things. Automate savings and bill payments and debt payments. Spend less by going shopping (at malls or online) much less. Find ways to have fun that don’t involve spending money.

7. Have a blast! Have fun each day, even if it’s just for a few minutes. I like to play with my kids — they take my mind off everything and are really hilarious. I also like to play sports (again, often with my kids). Board games are fun. Sex, again, can be a fun activity. Whatever you choose, be sure to laugh.

8. Get creative. Throwing yourself into a creative activity is another great way to de-stress and to prevent stress. I like writing, but others like to paint or play music or sketch or make pottery or do interior design or build things.

9. Declutter. This is a favorite of mine. I like to take 20-30 minutes and just go through a room, getting rid of stuff we don’t use or need anymore. I look around at anything that’s cluttering up a room, and get rid of it or find a better place for it. When I’m done, I have a nice, peaceful environment for work, play, and living. Do this a little at a time — it can be one of your “fun activities”.

10. Be early. I will admit that it’s hard to be early when you have to get 6 kids ready (seriously — try it!). But being late can be very stressful. Try to leave earlier by getting ready earlier, or by scheduling more space between events. Things always take longer than normal, so schedule some buffer time: extra time to get ready, to commute, to do errands before you need to be somewhere, to attend a meeting before another scheduled appointment. If you get somewhere early, it’s good to have some reading material.

Tips mengatasi cemburu

1. Terima hakikat bahwa sifat cemburu kita adalah masalah kita sendiri & kita bertanggungjawab mengatasinya sendiri. Pikirkan tidak siapa yang dapat membuat kita cemburu. Kita dapat mengontrol pikiran dalam bentuk situasi pun. Ingatlah, pilihan terletak pada diri sendiri, bukannya orang lain.

2. Hormati perasaan pasangan kita. Seperti kita, dia juga memiliki hak untuk menilai kecantikan wanita / lelaki lain. Jika kita dapat melakukannya, kita sudah dapat mengatasi sifat cemburu.

3. Bagi diri sendiri waktu untuk mengatasinya. Jika kita memang seorang yang cemburu, usah berharap kita bisa berubah dalam waktu yang singkat.

4. Tuliskan apa perasaan kita bila kita merasa cemburu. Marah? Tidak tentu arah? Menangis? Geram? Rasa malu? Rasa bersalah? atau bertindak kasar? Apakah kita ingin melanjutkan hidup kita dengan cara ini? Jika jawabannya tidak, maka cepat2 lah berubah.

5. Coba pikirkan bagaimana cemburu kita meledak. Apakah adil kita menyisihkan pasangan kita dari orang lain? Parah sangatkah dia bila dia senyum pada seorang wanita / pria lain? Tidakkah kita sendiripun pernah tersenyum pada wanita / pria lain?

6. Banyak orang yang memiliki perasaan & masalah cemburu suka menyalahkan orang lain. Mereka sering mencari kesalahan orang lain & ingin pihak yang satu lagi mengubah sikap tetapi dalam masa yang sama tidak melihat kesalahan sendiri. Terima hakikat bahwa kita manusia sebenarnya tidak sempurna.

7. Bagaimana erat pun hubungan anda berdua, terima fakta bahwa masih ada pria / wanita lain yang lebih cantik, bijak & baik. Jadi janganlah mencoba mengongkong pasangan kita. Habiskan waktu bersamanya dengan penuh kegembiraan. Jangan biarkan hubungan kita goyang dengan imaginasi kita yang karut.

8. Bina keyakinan diri. Kita mungkin merasa tidak aman jika selalu bergantung pada pasangan. Luaskan persahabatan dengan orang lain.

9. Jika rasa cemburu kita sedang memuncak, bayangkan apa yang akan terjadi jika kita melepaskannya ke pasangan kita. Misalnya jika pasangan dipromosikan & memiliki seorang sekretaris yang cantik, kita patutnya ucapkan tahniah & bukannya menyindir. Jika dia ingin curang dengan siapapun, dia tetap akan buat tak kira la samada kita cemburu atau tidak. Cemburu tidak akan dapat menghalangi mereka.

Jumat, 03 September 2010

Pelajaran Hidup Dari Batu Rubi yang Pecah

Alkisah, di sebuah kerajaan, raja memiliki sebuah batu rubi yang sangat indah. Raja sangat menyayangi, mengaguminya, dan berpuas hati karena merasa memiliki sesuatu yang indah dan berharga. Saat permaisuri akan melangsungkan ulang tahunnya, raja ingin memberikan hadiah batu rubi itu kepada istri tercintanya. Tetapi saat batu itu dikeluarkan dari tempat penyimpanan, terjadi kecelakaan sehingga batu itu terjatuh dan tergores retak cukup dalam.
Raja sangat kecewa dan bersedih. Dipanggillah para ahli batu-batu berharga untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Beberapa ahli permata telah datang ke kerajaan, tetapi mereka menyatakan tidak sanggup memperbaiki batu berharga tersebut.
“Mohon ampun, Baginda. Goresan retak di batu ini tidak mungkin bisa diperbaiki. Kami tidak sanggup mengembalikannya seperti keadaan semula.”
Kemudian sang baginda memutuskan mengadakan sayembara, mengundang seluruh ahli permata di negeri itu yang mungkin waktu itu terlewatkan.

Tidak lama kemudian datanglah ke istana seorang setengah tua berbadan bongkok dan berbaju lusuh, mengaku sebagai ahli permata. Melihat penampilannya yang tidak meyakinkan, para prajurit menertawakan dia dan berusaha mengusirnya. Mendengar keributan, sang raja memerintahkan untuk menghadap.
“Ampun Baginda. Mendengar kesedihan Baginda karena kerusakan batu rubi kesayangan Baginda, perkenankanlah hamba untuk melihat dan mencoba memperbaikinya. ”
“Baiklah, niat baikmu aku kabulkan,” kata baginda sambil memberikan batu tersebut.
Setelah melihat dengan seksama, sambil menghela napas, si tamu berkata, “Saya tidak bisa mengembalikan batu ini seperti keadaan semula, tetapi bila diperkenankan, saya akan membuat batu rubi retak ini menjadi lebih indah.”
Walaupun sang raja meragukan, tetapi karena putus asa tidak ada yang bisa dilakukan lagi dengan batu rubi itu, raja akhirnya setuju. Maka, ahli permata itupun mulai memotong dan menggosok.
Beberapa hari kemudian, dia menghadap raja. Dan ternyata batu permata rubi yang retak telah dia pahat menjadi bunga mawar yang sangat indah. Baginda sangat gembira, “Terima kasih rakyatku. Bunga mawar adalah bunga kesukaan permaisuri, sungguh cocok sebagai hadiah.”
Si ahli permata pun pulang dengan gembira. Bukan karena besarnya hadiah yang dia terima, tetapi lebih dari itu. Karena dia telah membuat raja yang dicintainya berbahagia.
Di tangan seorang yang ahli, benda cacat bisa diubah menjadi lebih indah dengan cara menambah nilai lebih yang diciptakannya. Apalagi mengerjakannya dengan penuh ketulusan dan perasaan cinta untuk membahagiakan orang lain.
TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA DI DUNIA INI
Saya kira demikian pula bagi manusia, tidak ada yang sempurna, selalu ada kelemahan besar ataupun kecil. Tetapi jika kita memiliki kesadaran dan tekad untuk mengubahnya, maka kita bisa mengurangi kelemahan-kelemahan yang ada sekaligus mengembangkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki sehingga keahlian dan karakter positif akan terbangun.
Dengan terciptanya perubahan-perubahan positif tentu itu merupakan kekuatan pendorong yang akan membawa kita pada kehidupan yang lebih sukses dan bernilai!
Semoga bermanfaat dan menyadarkan kita semua untuk selalu melakukan segala sesuatu dengan tulus dan berusaha membahagiakan orang lain.

Pengusaha Dan Mobil Mewah

Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise.
Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.

“Buk….!” Aah…, ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.
“Cittt….” ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa.
Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir. “Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. “Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya.” Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.
Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.” Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.
“Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….” Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..” Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.
“Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya.”
Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah.
Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.
“Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak.”
Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Dtelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores itu oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya.
Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini.
Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”
Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan.
Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?
Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya.
Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas. Teman, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak.
Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

Sebuah Renungan Singkat

Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankan untuk menggugurkan kandungannya?
Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh satu komponis masyhur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.
dan…..
Sekarang adalah waktunya untuk memilih seorang pemimpin dunia dan keputusan anda berpengaruh besar terhadap siapa yang akan menjadi pemenang. Berikut adalah fakta mengenai ketiga calon tersebut:
Calon A: dihubung-hubungkan dengan politisi jahat dan sering berkonsultasi dengan astrologis, punya dua istri muda, dia juga seorang perokok berat dan minum 8-10 botol martini setiap harinya.
Calon B: dipecat dua kali dari kantor, selalu bangun sore hari, pernah menggunakan narkoba waktu kuliah dan minum wiski tiap sore.
Calon C: dianggap pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, tidak pernah berselingkuh di luar perkawinannya.
Siapa di antara ketiga calon ini yang akan anda pilih? Anda mungkin tidak akan menduga siapa sebenarnya calon-calon ini:
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>
====>















Calon A adalah Franklin D. Roosevelt
Calon B adalah Winston Churchill
Calon C adalah Adolf Hitler
Sekali lagi sejarah mengajarkan untuk tidak menilai orang dari penampilan.
Refleksi :
Kita tidak selalu tahu apa yang sedang dan masih mungkin terjadi di dalam hati seseorang. Di sanalah (di dalam hati), perjalanan yang sesungguhnya sedang terjadi. Selama kita belum bisa melihat ke dalam hati seseorang dan belum bisa mengikuti proses-proses yang masih berlangsung di dalamnya (dan memang tidak akan pernah bisa), maka sebenarnya selama itulah kita tidak mempunyai hak apapun untuk menghakimi sesama kita.
Mungkin baik bagi kita membiasakan diri untuk melihat secara imajiner, bahwa di dada setiap orang terpampang sebuah kalimat “Tuhan belum selesai dengan saya”

Tanpa Kebencian Pada Siapapun

''Kemerdekaan menuntut kewaspadaan dan kesetiaan selamanya.''
~ Abraham Lincoln

Siapa yang tidak mengetahui setidaknya sedikit saja tentang Abraham Lincoln? Dari cerita tentang Lincoln-lah saya mendengar istilah 'Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun'.

Tentu saya cukup sering mendengar yang seperti itu dari khotbah-khotbah di tempat-tempat ibadah, di radio, bahkan di televisi. Tapi apakah yang berkhotbah melakukan seperti yang dikatakannya? Semoga!

Tapi khusus tentang 'Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun', setahu yang saya baca, Abraham Lincoln melakukannya. Karena itulah mungkin Lincoln menjadi orang besar.

Saya tidak menghitung berapa buku yang menceritakan perjuangan hidup Abraham Lincoln ini. Ada di buku yang berisi motivasi, manajerial, ketekunan, kepemimpinan, adversity, perjuangan, ketidakbencian, dan hal-hal yang baik dan mulia lainnya.

Konon, Abraham Lincoln mengalami perjuangan hidup yang keras dan berat seperti ini:
Tahun 1832 Lincoln kehilangan pekerjaan dan digulingkan dalam perebutan kursi legislatif negara bagian Illinois.
Tahun 1833, ia gagal dalam bisnisnya.
Tahun 1834, ia terpilih untuk duduk badan legislati negara bagian.
Tahun 1935, sang kekasih hatinya meninggal dunia.
Tahun 1838, ia gagal menjadi Juru Bicara Gedung Putih.
Tahun 1843, ia gagal lagi menjadi nominasi untuk duduk di Kongres.
Tahun 1846, ia terpilih untuk duduk di Kongres.
Tahun 1846, ia kehilangan kesempatan untuk dicalonkan kembali.
Tahun 1849, ia ditolak menjadi pegawai pengawas tanah pemerintah.
Tahun 1854, ia gagal untuk duduk di senat.
Tahun 1856, ia gagal untuk nominasi jabatan wakil presiden.
Tahun 1858, ia kembali gagal untuk duduk di senat.
Tahun 1860, ia terpilih menjadi presiden Amerika Serikat.

Tapi apakah kejadian itu benar atau tidak, bagi saya bukan itu yang utama dari Abraham Lincoln. Memang perjuangannya luar biasa. Sudah pasti semua orang tidak menjadi presiden. Saya lebih tertarik dengan karakter dan nilainya.

Mengapa dan bagaimana Lincoln sampai bisa seperti itu? Ini lebih menarik. Mengapa dan bagaimana Lincoln menjadi pribadi yang tidak menanamkan kebencian sedikit pun dalam hatinya kepada siapa pun? Bagaimana Lincoln mendapatkan kebijaksanaan dan mempraktikkannya? Bagaimana Lincoln menjadi manusia yang bijaksana?
Ruang Kerja Presiden


Konon, di ruang kerja presiden Amerika Serikat, bahwa gambar yang ada adalah gambar Abraham Lincoln. Lincoln adalah presiden Amerika Serkat yang ke-16. Menjabat presiden 4 Maret 1861-sampai hari terbunuh, 14 April 1865.

Tentang gambar di ruang kerja pemimpin tertinggi sebuah bangsa atau negara, juga menarik perhatian. Bagaimana dengan Indonesia dan bangsa-bangsa lain? Wajah siapakah yang terpampang di bagian atas ruang kerja seorang pemimpin tertinggi? Sepertinya gambar pemimpin itu sendiri.

Tapi ada baiknya juga bahwa gambar resmi di ruang kerja seorang presiden adalah gambar orang lain. Saya pernah baca, tapi tidak tahu persis, seorang presiden Amerika Serikat yang masih aktif saat itu berkata begini, "Jika saya menghadapai persoalan berat atau masalah yang sangat pelik, saya akan melihat gambar Abraham Lincoln dan merenung, 'Jika Lincoln, menghadapi yang seperti ini, apa yang akan diputuskan dan dilakukannya?'"
Pengalaman Hidup Lincoln yang Sangat Penting


Walaupun banyak kriteria dan sangat sulit untuk untuk menentukan seseorang menjadi presiden - the greatest president - tapi dari berbagai survai dan jajak pendapat, bahwa secara umum, Abraham Lincoln-lah yang menjadi presiden terbesar Amerika Serikat. Memang saat seseorang menajdi presiden, hal-hal yang terjadi yang sangat penting: krisis, pergolakan, peperangan, konflik, perang saudara, masalah ras dan perbudakan -- tapi sepertinya tetap Abraham Lincoln disebut-sebut sebagai presiden yang paling bijaksana.

Lalu bagaimana Lincoln menjadi seperti itu? Bagaimana Lincoln mempunyai prinsip 'Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun'? Bagaimana Lincoln menjadi bijaksana?

Saya mendapat cerita, dari The Starting Point of Happiness - A Practical and Intuitive Guide to Discovering Love, Wisdom, and Faith karya Ryuho Okawa, tentang pengalaman hidup Lincoln yang sangat penting, lebih khusus tentang motonya ''Tanpa Kebencian terhadap Siapa Pun':
Akan sangat sulit sekali menemukan orang yang menjalankan moto seperti itu. Bahkan, sangat langka hingga kemungkinan untuk menemukan orang seperti itu kurang dari satu dibanding satu juta. Memiliki niat untuk tidak menyakiti orang lain kedengaran begitu mudah, namun hampir tak ada seorang pun mampu mempraktikkannya. Lincoln adalah satu perkecualian yang jarang ada.

Tetapi, temperamen Lincoln yang sebenarnya jauh dari sifat yang tenang seperti disiratkan oleh moto yang menjadi pegangan hidupnya bertahun-tahun kemudian. Sebagai seorang pemuda, ia mudah marah dan sering berkelahi.

Menurut biografinya, pada awal kariernya sebagai pengacara, ia mengkritik dan menentang banyak orang di depan umum.

Pada suatu hari setelah ia melancarkan serangan kepada seseorang, Lincoln ditantang untuk melakukan duel.

Di tepi sebuah sungai, berdiri saling memunggungi dengan musuhnya, ia mulai menghitung langkahnya sambil menenteng senjata di tangannya, namun tiba-tiba seorang penengah melibatkan diri dan menghentikan duel itu.

Ia terselamatkan.

Dari kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu, Lincoln mendapat pelajaran keras yaitu ada konsekuensi yang sangat serius atas kritikan yang sangat tajam kepada orang lain.

Akibat dari kejadian itu, pandangannya tentang hidup ini, berbalik seratus delapan puluh derajat.

Ia menyadari mengkritik dan mengutuk orang lain memang mudah, namun menjalani hidup tanpa memiliki pikiran yang bisa melukai orang lain sungguh sangat sulit.

Tapi ia memilih jalan yang sulit.


Cerita yang menjadi pengalaman Lincoln itu sangat menentukan hidupnya dari segala sisi.



Walaupun begitu, yang diketahui umum, wajah Abraham Lincoln tidaklah tampan, dia pernah mendapat olok-olokan banyak pihak, akan tetapi dia tidak pernah menganggapnya tabu. Dia sering membuat situasi dengan nuansa humor. Suatu kali, Abraham Lincoln berdebat dengan lawan politiknya. Lawannya mengatakan bahwa apa yang dikerjakan Lincoln berbeda dengan apa yang dikatakannya, dia adalah orang bermuka dua.

Abraham Lincoln mengomentarinya, ”Baru saja saya dikatakan memiliki dua rupa, cobalah dipikir, kalau saja saya memiliki wajah lain, buat apa saya masih memakai wajah ini untuk menjumpai kalian?”


"Perbedaan antara orang biasa dan orang besar adalah kemampuan mereka untuk memilih jalan yang sulit."
~ Ryuho Okawa

Tukang Cukur

Ada seorang tukang cukur tua yang baik hati di sebuah kota di United States.
Suatu hari seorang penjual bunga datang kepadanya untuk memotong rambut.
Selesai potong rambut, dia bermaksud membayar tetapi tukang cukur menjawab :
"Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu.
Saya melakukan pelayanan".
Si penjual bunga sangat gembira dan meninggalkan tukang cukur tersebut.
Pada keesokan paginya, ketika si tukang cukur membuka toko, ada sebuah kartu
ucapan terima kasih dan selusin bunga mawar yang telah menanti di depan
pintu.

Seorang polisi datang untuk potong rambut dan diapun bermaksud membayar
setelah selesai dipotong rambutnya.
Tetapi, si tukang cukur pun menjawab :
"Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu.
Saya melakukan pelayanan". Si polisi pun sangat gembira dan meninggalkan
tukang cukur tersebut.
Pada keesokan paginya,ketika si tukang cukur membuka toko, ada sebuah kartu
ucapan terima kasih dan selusin donat yang telah menanti di depan pintu.

Dihari berikutnya datanglah seorang software engineer dari Indonesia untuk
potong rambut, ketika dia hendak membayar, si tukang cukur pun menjawab :
"Maaf, saya tidak dapat menerima uang dari mu. Saya melakukan pelayanan".
Si software engineering dari Indonesia pun amat sangat gembira dan
meninggalkan tukang cukur tersebut.
Pada keesokan paginya, ketika si tukang cukur membuka toko, .. coba tebak
!!! apa yang tukang cukur temukan di depan pintu ???????????? ?????????

!
!
!
!
!
!
!
Dapatkah kamu menebaknya ???????????
!
!
!
!
!
!
Apakah kamu belum tau jawabannya?? ????????? ?
!
!
!
!
!
!
Ayo. Berfikirlah seperti orang indonesia ......!!!!!!
!
!
!
!
!
!
Ok!!!!!OK!!! !!!!!!!!! !!!

Jawabannya :

"Selusin orang Indonesia telah menunggu untuk potong rambut GRATIS...... ...!!!!!! !!!"

Kamis, 02 September 2010

Belum Sukses Atau Belum Bersyukur

Ada seorang raja yang lewat di sebuah hutan. Di hutan itu ia melihat seorang petani miskin yang sedang tidur lelap. Sang raja berpikir, “Aduh, enak sekali ya petani itu. Tidur nyenyak, seolah tak punya beban. Sedangkan aku, tak pernah bisa lelap. Berbagai persoalan kerajaan yang kupikul, membuat mataku tak bisa ngantuk.”

Kemudian sang raja berpikir, andai ia jadi petani, mungkin hidupnya akan lebih bahagia. Ia lalu membangunkan si petani, “Hai petani, maukah kamu bertukar peran denganku. Sehari saja. Biar aku bisa merasakan nikmatnya jadi petani, dan kamu bisa mencicipi enaknya jadi raja.”

Si petani terkaget-kaget. Tentu saja ia girang bukan main. Jadi raja? Hmm...mimpi apa aku semalam, batinnya. “Tapi gimana caranya, Baginda?”

“Kita tinggal saling bertukar pakaian,” ujar sang raja. “Dengan pakaian ini, kamu akan jadi raja betulan dan aku jadi petani.”

Transaksi itupun dimulai. Masing-masing menjalankan perannya. Sang raja yang telah berganti pakaian petani, duduk di bawah pohon sambil menikmati angin yang berembus lembut. “Nah, kini aku jadi seorang petani,” batinnya sambil tersenyum. Lalu ia mencangkul dan tak lama pun tertidur.

Setelah beberapa jam tidur, sang raja bangun dan menggeliatkan tubuhnya. Hmm…enak sekali, pikirnya. Tiba-tiba perutnya terasa lapar. Di mana aku harus cari makanan? Ia lalu melihat ladang garapannya yang tampak subur. Berbagai sayuran, buah-buahan, dan gandum tumbuh rimbun. Ia segera memetiknya dan memakannya dengan lahap.

Akan tetapi, tiba-tiba guntur menggelegar. Hujan turun disertai badai. Sang raja ketakutan dan berlindung di dalam rumahnya yang terbuat dari bambu. Badai itu mengguncang semalaman, dan esok harinya tak ada lagi yang tersisa. Baik ladang maupun rumah petani, ambruk semua. “Aduh, gimana aku bisa makan dan berteduh?” kata sang raja panik. “Mendingan aku cepat-cepat bertemu petani dan kembali jadi raja.”

Sementara itu, di kerajaan, si petani yang berpakaian raja sedang enak-enakan duduk di kursi singgasana yang mewah, dikelilingi para dayang cantik dan para pengawal gagah. “Andai aku selamanya jadi raja,” batinnya, bungah. Malam itu ia habiskan untuk minum-minum dan menyantap aneka makanan lezat yang belum pernah ia temukan sebelumnya.

Namun keesokan paginya, seorang pengawal datang dan memberi kabar buruk, “Baginda, pasukan kerajaan musuh sedang menuju ke sini. Wilayah perbatasan kita sudah diporak-porandakan, sementara prajurit dan senjata kita sama sekali belum disiapkan. Ini serangan mendadak. Apa yang harus kita lakukan?”

Sang raja jadi panik luar biasa. Lalu ia teringat bahwa hari ini ia harus bertukar peran kembali dengan raja yang asli. “Aku harus mencari dia dan kembali jadi petani,” ujarnya.

Raja dan petani pun bertemu di hutan, dan kembali bertukar peran, tanpa mengatakan apa-apa tentang kejadian buruk yang baru saja mereka alami masing-masing. Saat kembali jadi raja, sang raja mendapati kerajaannya sedang diserang musuh. “Sialan, kenapa si petani tidak cerita?” umpatnya. Ia pun segera mengerahkan pasukan kerajaan untuk menghalau musuh. Demikian juga si petani, saat melihat ladang dan rumahnya rata dengan tanah, ia marah, “Kenapa si raja tidak cerita? Dasar pengen enaknya aja.” Ia pun segera membersihkan ladang dan mulai menanam lagi, mengumpulan bambu dan jerami untuk mendirikan rumahnya lagi.

Sambil bekerja, raja dan petani sama-sama berpikir, “Untunglah bisa kembali ke profesi semula. Meski keadaan gawat, setidaknya problem masih bisa kutangani karena aku telah berpengalaman menghadapinya.”

Sahabat, ada banyak itibar yang bisa diambil dari kisah di atas. Salah satunya, mengingatkan kita pada satu pertanyaan, sudahkah kita bersyukur???

Seperti halnya sang raja dan petani. Dalam kasus sehari-hari, sering kita berkhayal pengen jadi ini itu. Yang pengusaha, pengen jadi pegawai. Yang pegawai, pengen jadi pejabat. Yang pejabat, pengen jadi ibu rumah tangga. Yang ibu rumah tangga, pengen jadi artis. Yang artis, pengen jadi pengusaha. Kapan selesainya? Bagai lingkaran yang tak pernah ada ujungnya. Karena masing-masing lupa akan pencapaian diri, dan mulai melirik kanan-kiri. “Duh, enaknya jadi si X,” “Kapan ya aku seperti si Y?” “Tuhan, tolong jadikan aku si Z.”

Keinginan manusia yang tak terbatas, membuat kita selalu ingin berganti kostum. Dari kostum raja menjadi petani, dan sebaliknya, berharap ada ‘kelebihan’ kita temui di dalamnya. Kita tidak tahu bahwa di balik kelebihan yang tercipta di alam khayal kita, pasti ada juga kekurangannya. Semua status atau profesi atau pencapaian apapun selalu ada resikonya. Nah, kadang resiko inilah yang enggan kita pikirkan. Hanya enaknya saja yang kita bayangkan.

Belum lama ini, seorang sahabat lama dari Bandung bertemu kembali dengan saya setelah 4 tahun! Dia sekarang bekerja sebagai agen asuransi di sebuah perusahaan multinasional. Dia berkata pada saya, “Kamu bisnis? Trus juga nulis? Wuih…asyik banget ya. Bebas waktu, bebas berekspresi, bebas...finansial. Sedangkan aku…???”

Saya tertawa mendengar komentarnya. “Ah masa sih enak? Bisnis itu bikin pusing. Nulis juga kadang ngebosenin. Mendingan kamu, jadi agen asuransi. Bisa ketemu orang tiap hari, bikin transaksi tiap hari. Abis gitu, di akhir tahun bisa dapet bonus jalan-jalan ke luar negeri!”

Kami berdua saling tertawa, dan sadar bahwa sebenarnya tak ada pilihan yang lebih enak dalam kehidupan kita. Yang enak adalah, saat kita mencintai pekerjaan kita, menikmati setiap prosesnya, dan benar-benar mensyukurinya. Berhasil atau belum berhasil, tak masalah. Yang penting adalah perasaan ‘bahagia’nya. Kalau kita bahagia, menurut saya, hidup sudah bisa dikatakan sempurna.

Mungkin anda merasa belum sukses di bidang yang sekarang. Tapi siapa tahu, jika mau meluangkan waktu untuk bersyukur, justru anda sudah makmur? Sebagai contoh, kawan saya pernah bilang, “Aduh, kalau lihat teman-teman yang punya rumah mewah dan uang melimpah, rasanya iri sekali. Tapi kalau saya lihat kembali nikmat yang telah saya dapat selama ini, rasanya kok masih alhamdulillah. Saya masih bisa makan, punya tempat tinggal, masih bisa kerja. Saya masih tergolong ‘sukses’ dibanding orang-orang yang tak seberuntung saya.”

Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Bersyukur = Successful

Bersyukur adalah kunci sukses paling penting. Apakah orang itu sekaya Bill Gates, sekeren Brad Pitt, atau sepopuler GW Bush, tanpa syukur dia takkan merasa sukses. Malah, cenderung menganggap dirinya sepele. Orang yang seperti ini tak pernah puas, selalu haus, dan kadang…rakus. Ia menggolongkan diri bukan sebagai orang sukses, tapi sebagai ambisius. Atau kalau tidak ambisius, dia penggerutu. Dan hidupnya selalu kurang.

Sebaliknya, dia yang bersyukur, meski hanya tukang sayur, tukang cukur, atau tukang bubur, dia tetap merasa luhur. Luhur berarti bahwa apa yang dikaruniakan Allah adalah sesuatu yang agung. Sesuatu yang tak pantas dikeluh-kesah, melainkan dijalani sambil terus diasah.

Mensyukuri apapun yang kita dapat, baik-buruknya, susah-senangnya, plus-minusnya, adalah kunci bahagia. Sebab hidup selalu terdiri atas dua sisi. Ada siang ada malam, ada suka ada duka. Setiap sisi selalu berganti satu dengan lainnya, kadang dalam tempo tak terduga. Kalau tidak bersyukur, perubahan-perubahan ini tentu saja menjadi beban dan bukannya hikmah. Kalau sudah menganggap beban, akan mudah bagi kita untuk menjuluki diri sendiri sebagai orang gagal!

Sewaktu kanak-kanak, pasti kita pernah mendengar dongeng tentang Pangeran Kodok, Lutung Kasarung, atau Rapunzel. Seekor kodok jelek tiba-tiba berubah jadi pangeran tampan ketika ia tahu bahwa gadis cantik mencintai sang kodok. Seekor lutung hitam berubah jadi pemuda gagah saat putri cantik mencintai sang lutung. Rapunzel yang buruk rupa mendadak berubah jadi cantik ketika seorang pangeran memanjati menara untuk menolongnya.

Apakah dongeng-dongeng itu ingin agar setiap orang berkhayal jadi cantik/tampan dan disunting pangeran/putri impian?

Tidak! Makna sesungguhnya dari dongeng-dongeng itu adalah: ketika cinta merasuk dalam dada, apa yang pada awalnya tampak buruk pun bisa menjadi cahaya. Itulah makna rasa syukur. Manakala syukur itu ada, apapun kemasannya, segala isi dunia akan tampak indah senantiasa.

Mari kembali tengok ke dalam, apakah kita belum sukses, ataukah belum bersyukur?? Kalau memang belum sukses, masih banyak cara untuk meraihnya. Tapi kalau belum bersyukur, hanya ada satu cara yakni: kembali menghitung nikmat Allah dan menghidupkan rasa malu kita di hadapan-Nya.

“…Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (Al Mulk 67:23) Padahal seharusnya “…Terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (Adh Dhuha 93:11)


Bersyukur = Bertafakur

Kalau kita hanya seorang petani, namun terbersit ingin jadi raja, jangan salahkan siap-siapa. Jangan tanya, “Kenapa orangtuaku bukan raja? Kenapa Tuhanku tidak menjadikanku raja?” Itu pertanyaan yang tiada guna. Takkan pernah ada jawabnya.
Saat sesuatu terjadi di luar harapan kita, hentikan berprasangka, dan mulailah bertafakur. Tengoklah lebih dalam. Pasti di sana ada harapan. Ada serpih-serpih kebaikan. Ada kunci-kunci kebahagiaan.

Allah Maha Mendengar isi hati. “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (Al Mulk 67:13) Allah pasti mengabulkan doa kita, harapan kita, meskipun bisa jadi dalam bentuk yang berbeda dari apa yang kita bayangkan.

Kita meminta kekuatan,
Dia memberi berbagai kesulitan agar kita jadi tegar.
Kita meminta kebijaksanaan,
Dia memberi berbagai masalah untuk diselesaikan.
Kita meminta kekayaan,
Dia memberi tenaga dan pikiran untuk bekerja.
Kita meminta keberanian,
Dia memberi rintangan untuk diterjang.
Kita meminta kasih sayang,
Dia memberi orang susah untuk diberi pertolongan.
Kita meminta kesuksesan,
Dia memberi kita peluang dan kesempatan.

Kita meminta jadi raja supaya hidup enak, Allah malah menjadikan kita petani. Kenapa? Supaya tak usah pusing memikirkan rakyat dan peperangan. Nah, bukanlah Allah Maha Memudahkan?

Kita meminta jadi petani supaya bisa tidur nyenyak, Allah malah menjadikan kita raja. Kenapa? Supaya terhindar dari badai yang menimpa ladang dan tempat peristirahatan.

Kita diberi amanah yang berbeda satu sama lain, supaya kita menghadapi berbagai ujian hidup dengan tangan-tangan kita sendiri, dengan kemampuan yang kita punyai, bukan dengan sesuatu yang kita tidak dibekali.

Kita meminta apa yang kita inginkan, Dia memberi apa yang kita butuhkan. Allah tak pernah salah memberikan segala sesuatu pada hamba-Nya. Dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita.

“…Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Luqman 31:12)

Sahabat, ayo awali tahun baru ini dengan rasa syukur. Karena dibalik syukur, terdapat hikmah yang sangat nyata untuk menunjang keberhasilan kita di dunia dan akhirat. Percayalah, syukur akan membuat kita mujur dan bertambah makmur! Seperti Firman-Nya, “...Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan bila kamu tidak bersyukur maka ketahuilah bahwa azab-Ku sangat pedih.”(Ibrahim 14:7)

Syukur itu indah. Syukur itu rahmah. Syukur itu mudah. Syukur itu…Alhamdulillah.


Copyright 2008 by Elie Mulyadi

Bergunakah Diri Saya?


Jangan berusaha menjadi orang yang berhasil
Berusahalah menjadi orang yang berguna

- Sebuah pepatah


Pada suatu pagi dalam perjalanan, tak sengaja saya mendengarkan siaran radio. Di antara jeda iklan-iklan, seorang penyiar berkata, “jangan berusaha jadi orang yang berhasil. Tapi berusahalah jadi orang yang berguna.”

Lama saya merenungkan kalimat itu. Apa maksudnya ya?

Kemudian saya teringat peristiwa sebelumnya. Seorang teman dekat pernah curhat kepada saya. “Aduh, aku kesal banget sama bosku. Keluar kantor sebentar, langsung dicari-cari. Teman-teman sekantor juga sama nyebelinnya. Kalau aku tak ada, mereka terus-terusan menelepon atau sms. Minta dikasih tahu cara buat laporan-lah, minta ini-lah, minta itu-lah. Kapan ya aku bisa hidup tenang tanpa gangguan?”

Waktu itu saya cuma menanggapinya dengan senyum. Saya berkata singkat, “Itu berarti kamu dibutuhkan.”

Sekarang, setelah mendengar kata-kata penyiar di radio itu, saya jadi berpikir, seharusnya saya menyarankan teman saya itu bersyukur. Kenapa? Karena dia orang yang diinginkan. Kehadirannya selalu dibutuhkan, sampai-sampai ketika keluar kantor sebentar orang-orang langsung mencarinya. Itulah yang menurut saya orang yang berguna.

Bayangkan, bagaimana rasanya bila kita tidak dibutuhkan? Tidak dipedulikan? Kalau kita hadir di kantor, misalnya, orang lain tidak ‘nyadar’. Kalau kita tidak hadir, orang lain tidak merasa kehilangan. Pasti tidak menyenangkan, bukan? Rasanya sangat tidak diinginkan. Tidak berguna. Namun di dunia nyata, selalu ada saja orang yang demikian.

Sering saya mendengar ada teman yang bekerja di kantor dengan asal-asalan. Orang-orang datang pagi, dia baru muncul siang hari. Setiba di meja kerja, bukannya mengerjakan tugas, malah main game atau facebook-an. Kalau bos lewat, barulah pura-pura menulis laporan. Orang-orang masih sibuk menyelesaikan tugas, dia sudah beres-beres untuk pulang. Datang paling akhir, pulang paling awal. Kalau giliran makan, dia paling semangat. Tapi giliran bertugas, dia paling malas. Demikanlah kesehariannya. Perusahaan memang tidak memecatnya. Tapi bos dan teman-temannya jadi sebal padanya. Mereka menganggapnya cuma benalu saja. Orang tak berguna, begitulah ia dijuluki. Di dunia nyata, tidak sedikit orang yang seperti ini.

Sahabat, semoga kita tidak termasuk orang seperti itu ya! Meski kita bekerja di tempat nyaman, aman secara finansial, kita tidak boleh terlena. Orang lain bisa jadi tidak bisa menegur kita. Tapi apakah kita bisa menghindari teguran dari-Nya?

Sebagai muslim yang baik, tentu kita berharap untuk selalu mendapat ridho-Nya, meraih kecintaan-Nya. Dan saya pernah mendengar suatu hadits yang bunyinya begini:

"Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah orang yang paling berguna di antara mereka.”

Subhanallah. Alangkah indahnya hadits itu. Kita diberitahu, bila kita menjadi orang yang berguna, Allah swt akan mencintai kita!

Saya jadi mulai berpikir, sudahkah saya menjadi orang yang berguna? Seberapa bergunakah diri saya?

Saat saya pergi dari kantor satu atau beberapa hari, apakah saya dicari? Ataukah orang lain tak peduli meski saya lama pergi?

Apakah saya dibutuhkan, ataukah tidak apa jika diabaikan? Apakah sebuah sistem akan terhambat, ataukah dunia tetap berjalan seperti biasa bila saya tak ada?

Bermanfaatkah saya bagi dunia di sekeliling saya? Ataukah keberadaan saya hanya untuk memenuhi bumi saja?

Begitu banyak pertanyaan menyergap saya. Saya belum tahu jawabannya. Ini akan menjadi PR besar. Tapi yang pasti, saya tahu saya harus menjadi orang yang berguna. Yaitu ketika kita ada, orang lain menjadi senang. Ketika kita tidak ada, orang lain merindukan. Subhanallah. Alangkah indahnya menjadi orang yang seperti itu, bukan?

Saya jadi teringat kisah tentang nabi kita.

Ada seorang pedagang minyak wangi di Madinah yang sangat senang memandang wajah Rasulullah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah dulu ke rumah Rasulullah, dan dengan sabar menunggu sampai beliau keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia mengucapkan salam, memandang wajah beliau begitu lama, lalu setelah puas dia pun pergi. Begitu saja yang dilakukannya setiap kali pergi ke pasar. Suatu kali, ketika kembali dari pasar, orang itu datang lagi untuk melihat Rasulullah. Kali ini dia berkata, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya takut tidak bisa melihat engkau setelah ini.” Beliau mengizinkannya. Dan tak lama kemudian terdengar kabar pedagang itu meninggal dunia. Rasulullah pun terharu dan bersabda, “Kecintaannya kepadaku akan menyelamatkannya di hari akhirat.”

Rasulullah saw adalah contoh yang sangat dicintai. Ketika beliau hadir, para sahabat menjadi senang. Seperti pedagang minyak itu, yang tak pernah bosan memandang wajah Rasulullah sampai akhir hayatnya. Dan ketika beliau tak ada, para sahabat sangat merindukan. Banyak sekali kisah yang menjelaskan betapa besarnya kerinduan para sahabat kepada Rasulullah setelah beliau tiada. Contohnya adalah Bilal.

Bilal adalah sahabat Rasulullah yang dulunya seorang budak, kemudian dimerdekakan. Semasa hidup Rasulullah, Bilal selalu mengumandangkan adzan. Suara adzannya sangat indah. Akan tetapi ketika Rasulullah wafat, ia tidak mau beradzan lagi. Ia tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad Rasulullah” karena ada kata-kata Muhammad di situ. Suatu kali Fatimah mendesak Bilal untuk adzan karena rindu mendengar seruannya. Dengan berat hati, Bilal pun beradzan. Namun ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, ia berhenti. Ia menangis terisak-isak, lalu turun dari mimbar dan meminta izin pada Fatimah untuk tidak lagi membaca adzan. Mendengar suara adzan yang terhenti, seluruh Madinah berguncang karena tangisan kerinduan kepada Rasulullah Saw!

Sahabat, kita tidak mungkin bisa seperti nabi kita. Namun, menjadi orang yang dicintai baik ketika ada maupun tiada, bukanlah suatu hal yang mustahil. Bagaimana caranya? Sederhana, yaitu jadilah orang yang berguna.


Lalu, bagaimana caranya menjadi orang yang berguna?

Sulitkah? Rasanya tidak. Mari kita renungkan kelanjutkan hadits berikut:

"Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah orang
yang paling berguna di antara mereka. Dan perbuatan yang
paling dicintai oleh Allah ialah kegembiraan yang
dimasukkan ke dalam diri orang Muslim, atau menyingkirkan
kegelisahan dari diri mereka, atau membayarkan hutangnya,
atau menghilangkan rasa laparnya."

Sahabat, apa yang bisa kita ambil dari hadits di atas? Ya. Untuk menjadi orang yang berguna, kita bisa memulainya dari hal-hal yang sederhana. Menghibur teman yang sedang sedih, menjadi teman curhatnya, membuatnya kembali tertawa– segala sesuatu yang berkaitan dengan keseharian kita. Memaafkan kesalahan orang lain, menolong orang lain mengatasi kesulitan hidupnya, bersedekah, adalah perbuatan yang berguna. Mudah, bukan?

Saya jadi teringat seorang teman. Waktu itu saya dan tim diundang untuk memberikan pelatihan jurnalistik di luar pulau Jawa. Kami diberi fasilitas yang baik. Namun sayang, pihak perusahaan yang mengundang tidak bisa menyambut kami dengan optimal. Mereka sedang kekurangan tenaga, sehingga saya dan tim dibiarkan bekerja sendiri tanpa ramah tamah yang memadai. Padahal tim pelatih adalah orang-orang hebat dari kalangan media. Rasa kecewa pun sempat menyeruak di antara kami. Dan di saat itulah, tiba-tiba seorang perempuan tak dikenal hadir di tengah-tengah kami.

Dia masih muda, dan termasuk pengusaha kaya di kota itu. Dia sama sekali tidak ada hubungan dengan perusahaan yang mengundang. Dia hanya pernah kenal sepintas dengan salah satu dari kami. Namun dia langsung mengambil alih posisi menjadi ‘tuan rumah yang baik’. Kami diajak berkeliling kota itu, mengenal budaya dan tempat wisatanya, mentraktir makanan spesial, menceritakan dongeng-dongeng dengan riang. Tanpa kenal lelah dia menemani kami. Padahal dia sangat sibuk dengan bisnisnya, dan juga punya anak kecil di rumahnya. Tapi selama tiga hari lamanya, dia terus menjamu kami, mengajak berkunjung ke supermarket miliknya, membelikan oleh-oleh dan sebagainya. Sampai saatnya kami pulang, dia mengantar sampai bandara. Ketika tahu penerbangan ditunda, dia mengantarkan makanan supaya kami tidak bosan dan kelaparan. Ketika penerbangan dibatalkan, dia berjuang mengurus agen perjalanan agar saya dan tim bisa pulang hari itu.

Begitulah. Seorang yang tak dikenal, melimpahi kami dengan kebaikan, keramhatamahan, dan bahkan uang, tanpa mengharap balasan sedikit pun. Saya tidak tahu apa keuntungan yang dia peroleh dengan berbuat begitu. Ketika saya bertanya padanya, dia hanya menjawab, “Saya memang senang melakukannya.”

Sahabat, saya jadi iri kepada teman baru saya itu. Seumur hidup baru kali ini saya menemukan orang sebaik itu. Dia begitu penuh perhatian. Dia sudah sukses secara materi, namun tetap tidak melupakan satu hal, yakni menebar kebaikan bagi orang-orang, di sekitarnya, yang bahkan tak begitu dikenalnya.

Dari dia, saya jadi tahu bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai sesuatu. Hidup bukan hanya mencapai hasil. Namun lebih dari itu, sudahkah kita menjadi orang yang berguna? Orang yang membawa keceriaan bagi dunia di sekeliling kita.


Jadilah orang yang berguna!

Ya. Sahabat.

Allah swt telah menciptakan kita untuk menjadi rahmat. Sudahkah kita menjadi rahmat bagi orang-orang di sekitar? Apakah saat kita lewat, orang-orang akan menyadari kehadiran kita, merasakan manfaat kita? Ataukah kita tipe orang yang tak ‘terlihat’ dan ‘tak guna dilihat’?

Jangan biaran diri kita terabaikan, tak terlihat, seperti debu kecil lewat. Biarkan orang tahu bahwa kita ada, yakni dengan melakuan sesuatu yang berguna untuk mereka. Alangkah indah bila keberadaan kita menjadi rahmat bagi orang banyak.

Hadirlah…eksis-lah…biarkan orang menyadari kehadiran anda – bukan dengan banyak bicara sehingga kata-kata anda didengar, tapi dengan tindakan anda yang bermanfaat untuk sekitar. Meski anda pendiam, tidak banyak bicara, tapi bila menghasilkan karya yang baik, anda akan dilirik. Itulah esensi dari kata sukses. Benar kata penyiar tersebut, jangan berusaha menjadi orang yang berhasil, tapi berusahalah jadi orang yang berguna. Dengan menjadi orang yang berguna, anda pasti akan menjadi orang yang berhasil. Tidak hanya meraih keuntungan diri, namun juga meraih cinta sesama, dan yang terpenting dapat menggapai kecintaan dari-Nya.

Insya Allah…

Copyright@2009 by Elie Mulyadi.

Minggu, 22 Agustus 2010

Pohon Apel

Ada sebuah pohon apel yang besar. Seorang anak laki-laki senang bermain-main di pohon itu. Ia bermain setiap hari, memanjat pohon itu, memetik buah apelnya, dan tidur di bawah pohon itu. Ia menyukai pohon itu, dan sang pohon juga senang bermain dengannya.




Waktu berlalu. Anak lelaki itu tumbuh besar dan tak lagi bermain di pohon itu. Suatu hari, ia mendatangi pohon itu dengan wajah murung. "Ayo bermain bersamaku," kata sang pohon.

"Tidak. Aku bukan anak kecil lagi,” kata si anak. ”Aku tidak mau bermain bersamamu lagi. Aku ingin beli mainan saja. Tapi aku tak punya uang.”



"Maaf, aku tak bisa memberimu uang. Tapi kamu bisa memetik buah apel-apelku dan menjualnya supaya bisa dapat uang,” kata sang pohon.



Anak lelaki itu gembira dan memeluk pohon apel itu, lalu pergi dengan riang. Sang pohon merasa sedih karena setelah memetik apel-apelnya, anak lelaki itu tak pernah datang lagi.



Suatu hari, anak lelaki itu kembali. Dia sudah tumbuh dewasa. Sang pohon merasa gembira. ”Ayo bermain denganku,” katanya. Anak lelaki itu menggelengkan kepala.

"Tidak. Aku tak punya waktu untuk bermain-main. Aku harus kerja untuk membiayai keluargaku. Kami butuh rumah buat tinggal. Kau bisa menolongku?”



"Maaf, aku tidak punya rumah. Tapi kamu bisa memotong cabang-cabang pohonku untuk membangun rumahmu.”



Anak lelaki itu segera menebang cabang-cabang pohon itu dengan gembira, kemudiania pergi dan tak datang lagi. Sang pohon merasa sedih, sendirian dan kesepian.



Suatu hari, anak lelaki itu datang lagi. Sang pohon merasa gembira. “Ayo bermain denganku,” katanya. Anak lelaki itu berkata, "Tidak. Aku sudah tua. Aku ingin pergi berlayar untuk menangkan diriku. Bisakah kau memberiku perahu?”



"Pakailah ranting-rantingku untuk membuat perahu. Kamu bisa berlayar jauh dan menenangkan diri.”



Anak lelaki itu pun menebang ranting-ranting pohon untuk membuat perahu. Ia pergi berlayar jauh dan lama tidak kembali.



Akhirnya, suatu hari anak lelaki itu kembali setelah bertahun-tahun perg. Sang pohon berkata dengan sedih, “Maafkan aku, aku tak punya apapun lagi yang bisa kuberikan untukmu. Tak ada lagi buah apel untuk dimakan. Tak ada ranting untuk dipanjat. Aku sungguh tak punya apapun. Satu-satunya yang tersisa cuma akar-akarku yang sudah tua,” kata sang pohon dengan berlinang air mata.



"Aku tak butuh apapun,” jawab si anak. ”Aku hanya butuh tempat istirahat. Aku sudah tua dan lelah sekali belakangan ini.”



"Bagus! Akar-akar tua adalah tempat terbaik untuk istirahat. Duduklah dan tidurlah di sini.”



Anak lelaki itu pun duduk dan tidur di akar pohon itu. Sang pohon tersenyum sambil meniitikkan air mata. Meskipun sudah begitu lama si anak tidak mau bermain dengannya lagi, dan hanya datang untuk pergi, namun di masa tuanya, ia masih bisa memberi.



Kalau direnungkan, cerita ini adalah cerita tentang kita semua. Sang pohon apel adalah orang tua kita.



Ya. Ketika masih kecil, kita senang bermain dengan kedua orangtua. Saat tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan kembali hanya bila kita sedang butuh atau menghadapi masalah. Namun apapun yang terjadi, orang tua kita akan selalu ada, siap memberi apapun yang mereka miliki untuk membuat kita bahagia. Mungkin Anda berpikir, betapa kejamnya si anak lelaki dalam cerita ini, tapi begitulah cara kita semua memperlakukan kedua orang tua kita, bukan?

sumber : eliemulyadi.blogspot.com

Senin, 10 Mei 2010

7 Kebiasaan Yang Membuat Hidup Menjadi Kaya

Sering kali kita berpikir, bagaimana caranya agar kita bisa kaya secara materil dengan waktu cepat, tapi sedikit di antara kita tidak memikirkan arti kaya yang sebenarnya, kebiasaan kita sangat menentukan arah yang akan kita lalui, ini sedikit motivasi buat agan-agan sekalian yang semoga berguna buat yang membacanya:



1. Kebiasaan mengucap syukur

... Lihat Selengkapnya

Ini adalah kebiasaan istimewa yang bisa mengubah hidup selalu menjadi lebih baik. Bahkan agama mendorong kita bersyukur tidak saja untuk hal-hal yang baik, tapi juga dalam kesussahan dan hari-hari yang buruk. Ada rahasia besar di balik ucapan syukur yang sudah terbukti sepanjang sejarah. Hellen Keller yang buta dan tuli sejak usia dua tahun, telah menjadi orang yang terkenal dan dikagumi di seluruh dunia. Salah satu ucapannya yang banyak memotivasi orang adalah, “Aku bersyukur atas cacat-cacat ini, aku menemukan diriku, pekerjaanku dan Tuhanku”. Memang sulit untuk bersyukur, namun kita bisa belajar secara bertahap. Mulailah mensyukuri kehidupan, mensyukuri berkat, kesehatan, keluarga, sahabat, dan sebagainya. Lama kelamaan Anda bahkan bisa bersyukur atas kesusahan dan situasi yang buruk.



2. Kebiasaan berpikir positif



Hidup kita dibentuk oleh apa yang paling sering kita pikirkan. Kalau selalu berpikiran positif, kita cenderung menjadi pribadi yang yang positif. Ciri-ciri dari pikiran yang positif selalu mengarah kepada kebenaran, kebaikan, kasih sayang, harapan dan suka cita. Sering-seringlah memantau apa yang sedang Anda pikirkan. Kalau Anda terbenam dalam pikiran negatif, kendalikanlah segera ke arah yang positif. Jadikanlah berpikir positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif yang akan Anda alami.



3. Kebiasaan berempati



Kemampuan berhubungan dengan orang lain merupakan kelebihan yang dimiliki oleh banyak orang sukses. Dan salah satu unsur penting dalam berhubungan dengan orang lain adalah empati, kemampuan atau kepekaan untuk memandang dari sudut pandang orang lain. Orang yang empati bahkan bisa merasakan perasaan orang lain, mengerti keinginannya dan menangkap motif di balik sikap orang lain. Ini berlawanan sekali dengan sikap egois, yang justru menuntut diperhatikan dan dimengerti orang lain. Meskipun tidak semua orang mudah berempati, namun kita bisa belajar dengan membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan yang empatik. Misalnya, jadilah pendengar yang baik, belajarlah menempatkan diri pada posisi orang lain, belajarlah melakukan apa yang Anda ingin orang lain lakukan kepada Anda, dan sebagainya.



4. Kebiasaan mendahulukan yang penting



Pikirkanlah apa saja yang paling penting, dan dahulukanlah. Jangan biarkan hidup Anda terjebak dalam hal-hal yang tidak penting sementara hal-hal yang penting terabaikan. Mulailah memilah-milah mana yang penting dan mana yg tidak, kebiasaan mendahulukan yang penting akan membuat hidup Anda efektif dan produktif dan meningkatkan citra diri Anda secara signifikan.



5. Kebiasaan bertindak



Bila Anda sudah mempunyai pengetahuan, sudah mempunyai tujuan yang hendak dicapai dan sudah mempunyai kesadaran mengenai apa yang harus dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah bertindak. Biasakan untuk mengahargai waktu, lawanlah rasa malas dengan bersikap aktif. Banyak orang yang gagal dalam hidup karena hanya mempunyai impian dan hanya mempunyai tujuan tapi tak mau melangkah.



6. Kebiasaan menabur benih



Prinsip tabur benih ini berlaku dalam kehidupan. Pada waktunya Anda akan menuai yang Anda tabur. Bayangkanlah, betapa kayanya hidup Anda bila Anda selalu menebar benih ‘kebaikan’. Tapi sebaliknya, betapa miskinnya Anda bila rajin menabur keburukan.



7. Kebiasaan hidup jujur



Tanpa kejujuran, kita tidak bisa menjadi pribadi yang utuh, bahkan bisa merusak harga diri dan masa depan Anda sendiri. Mulailah membiasakan diri bersikap jujur, tidak saja kepada diri sendiri tapi juga terhadap orang lain. Mulailah mengatakan kebenaran, meskipun mengandung resiko. Bila Anda berbohong, kendalikanlah kebohongan Anda sedikit demi sedikit.

Motivasi

Inspirasi,semangat,dan motivasi:



Kesepianmu mungkin berasal dari ketidak mampuanmu untuk mengatasi rintangan dan cobaan hidupmu...Tak ada satu manusia pun yang sanggup untuk hidup sendiri...setiap kali kita melangkah..pasti ada tujuan dan harapan yang ingin diwujudkan...cobalah untuk mengerti arti hidup dari yang lebih utama/penting seperti apa yang diajarkan agamamu kepadamu...tentang apa tujuan Tuhan menciptakan manusia???

dirimu bukan dirimu....



Kita hidup untuk berbagi dan belajar...menolong dan berusaha....mencinta dan dicintai....

sedikit share....aq juga sama kaya kamu...hidupku selalu membosankan...

Tapi aq tidak pernah mengeluh pada hidupku...

dipikiranku hanya ada kata "siapa aku ini" ???

setiap ada pertanyaan itu muncul dipikiranku...aku pasti dapat menjawabnya karena kini aku sudah menemukan jawabannya:



1. Aku ini manusia...mahkluk ciptaan ALLAH yang paling sempurna...

2. Kehadiranku didunia ini adalah untuk menjadi pelita,pelindung,penjaga bagi keluarga,sahabat,teman,dan semua orang didunia ini....

3.Tak ada kata menyerah dalam hidupku...

4.Tuhan tolong aku di setiap langkahku...



Coba motivasi dirimu dengan 4 hal yang aku lakukan ini...

ingatlah!!!! kesepian,kejenuhan, dan kesendirian sebenarnya terjadi karena kita sendirilah yang menjadi penyebabnya...

ikutilah setiap kegiatan-kegiatan positif yang ada di sekitarmu...seperti kegiatan olahraga,kegiatan rohani,dll...



Buatlah hatimu bangga akan dirimu....

jangan pernah menyerah pada hidup, tetap tersenyum, banggakanlah keluargamu...

dan jangan kecewakan aq sebagai motivator mu.....

Memohon Nafkah

Fadlan datang kepada seorang kyai di kampungnya. Ia merasa bingung. Sudah banyak cara telah ia tempuh, namun rezeki masih tetap sulit ia cari.



Kata orang, rezeki itu bisa datang sendiri, apalagi kalau sudah menikah. Buktinya, sudah 3 tahun ia menikah dan dikarunia dua orang anak, ia masih tetap hidup luntang-lantung tak menentu.

Benar, keluarganya tidak pernah kelaparan sebab tidak ada makanan. Namun kalau terus-terusan hidup kepepet dan tidak punya pekerjaan, rasanya tidak ada kebanggaan diri.



Ia pun datang kepada Kyai Ahmad untuk minta sumbang saran. Kalau boleh sekaligus minta do’a dan pekerjaan darinya. Terus terang, ia sendiri kagum dengan sosok Kyai Ahmad yang amat bersahaja. Tidak banyak yang ia kerjakan, namun dengan anak 9 orang, sepertinya mustahil bila ia tidak pusing memikirkan nafkah keluarga. Tapi nyatanya, sampai sekarang Kyai Ahmad tetap sumringah di mata Fadlan. Tidak pernah ia lihat Kyai Ahmad bermuka muram seperti dirinya. Makanya hari itu, Fadlan datang untuk meminta nasehat kyai tersebut.



“Hidup ini adalah adegan. Kita hanya wayang, sementara dalangnya adalah Gusti Allah! Jadi, manusia itu hidup karena disuruh ‘manggung’ oleh Dalangnya!” Kyai Ahmad membuka penjelasan dengan sebuah ilustrasi ringan.



“Gak mungkin… kalau wayang itu manggung sendiri. Pasti, ia dimainkan oleh Dalang. Sementara selama di panggung, pasti Dalang akan memperhatikan nasib wayang itu! Begitu juga manusia… gak mungkin dia hidup di dunia, tanpa diperhatikan segala kebutuhannya oleh Gusti Allah! Sudah paham belum kamu, Fadhlan?!” Kyai Ahmad mengakhiri penjelasannya dengan sebuah pertanyaan.



“Tapi pak kyai…, kalau Gusti Allah benar menjamin hidup hamba-Nya… kenapa hidup saya seperti sia-sia begini ya… nyari nafkah saja kok susah!” Fadlan menyampaikan keluhnya.



“Oh… itu karena kamu belum datang kepada Gusti Allah. Kalau kamu datang kepada Gusti Allah, hidupmu gak bakal sia-sia!” Kyai Ahmad menambahkan.



Fadhlan belum mengerti betul apa maksud sebenarnya dari kata ‘datang kepada Allah’, ia pun menanyakan gambaran kongkrit tentang hal itu kepada Kyai Ahmad.



Dengan santai Kyai Ahmad menjelaskan, “Fadlan..., semua masalah di dunia ini bakal selesai asal kita datang kepada Allah. Banyak di dunia ini orang yang bermasalah, punya hutang segunung, rezeki sulit, ditimpa berbagai macam penyakit, kemiskinan, kelaparan dan lain-lain... Itu disebabkan karena mereka tidak datang kepada Allah. Kalau saja mereka datang kepada Allah, maka segala masalah mereka terselesaikan!”



“Apakah hanya sesederhana itu, pak Kyai?” Fadlan bertanya dengan nada penasaran. “Ya, hanya sesederhana itu!” Pak kyai menegaskan.



Pak Kyai bercerita, “Pernah terjadi di Rusia di sebuah negeri yang terkenal atheis, seorang pria pergi ke tukang cukur. Saat rambutnya dicukur, ia terserang kantuk. Kepalanya mulai mengangguk-angguk karena kantuk. Tukang cukur merasa kesal, namun untuk membangunkan pelanggannya, si tukang cukur mulai bicara:



‘Pak, apakah bapak termasuk orang yang percaya tentang adanya Tuhan?’ Pelanggan menjawab, ‘Ya, saya percaya adanya Tuhan!’ Agar pembicaraan tak terhenti, si tukang cukur menimpali, ‘Saya termasuk orang yang tidak percaya kepada Tuhan!’ ‘Apa alasanmu?’ pelanggan melempar tanya.



‘Kalau benar di dunia ini ada Tuhan, dan sifat-Nya adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, menurut saya tidak mungkin di dunia ada orang yang punya banyak masalah, terlilit hutang, terserang penyakit, kelaparan, kemiskinan dan lain-lain. Ini khan bukti sederhana bahwa di dunia ini tidak ada Tuhan!’ tukang cukur berbicara dengan cukup lantang.



Si pelanggan terdiam. Dalam hati, ia berpikir keras mencari jawaban. Namun sayang, sampai cukuran selesai pun ia tetap tidak menemukan jawaban. Maka pembicaraan pun terhenti. Sementara si tukang cukur tersenyum sinis, seolah ia telah memenangkan perdebatan.



Akhirnya, saat cukuran itu selesai, si pelanggan bangkit dari kursi dan ia berikan ongkos yang cukup atas jasa cukuran. Tak lupa, ia berterima kasih dan pamit untuk meninggalkan tempat. Namun dalam langkahnya, ia masih tetap mencari jawaban atas perdebatan kecil yang baru ia jalani.



Saat berdiri di depan pintu barber shop, ia tarik tungkai pintu kemudian hendak melangkahkan kakinya keluar.... saat itu Allah Swt mengirimkan jawaban padanya.



Matanya tertumbuk pada seorang pria gila yang berparas awur-awuran. Rambut panjang tak terurus, janggut lebat berantakan.



Demi melihat hal sedemikian, pintu barber shop yang tadi telah ia buka maka ditutup kembali. Ia pun datang lagi kepada tukang cukur dan berkata, ‘Pak, menurut saya yang tidak ada di dunia ini adalah TUKANG CUKUR!’ Merasa aneh dengan pernyataan itu, tukang cukur balik bertanya, ‘Bagaimana bisa Anda berkata demikian. Padahal baru saja rambut Anda saya pangkas!’



‘Begini pak, di jalan saya dapati ada orang yang kurang waras. Rambutnya panjang tak terurus, janggutnya pun lebat berantakan. Kalau benar di dunia ini ada tukang cukur, rasanya tidak mungkin ada pria yang berperawakan seperti itu!’ si pelanggan menyampaikan penjelasannya.



Tukang cukur tersenyum, sejenak kemudian dengan enteng ia berkata, ‘Pak... bukan Tukang Cukur yang tidak ada di dunia ini. Masalah sebenarnya adalah pria gila yang Anda ceritakan tidak mau hadir dan datang ke sini, ke tempat saya... Andai dia datang, maka rambut dan janggutnya akan saya rapihkan sehingga ia tidak berperawakan sedemikian!’



Tiba-tiba si pelanggan meledakkan suara, ‘Naaaahhhh.... itu dia jawabannya. Rupanya Anda juga telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang Anda lontarkan!’ ‘Apa maksudmu?’ si tukang cukur tidak mengerti dengan pernyataan pelanggannya.



‘Anda khan bilang bahwa di dunia ini banyak manusia yang punya masalah. Kalau saja mereka datang kepada Tuhan, pastilah masalah mereka akan terselesaikan. Persis sama kejadiannya bila pria gila tadi datang kemari dan mencukurkan rambutnya kepada Anda!’”



Kyai Ahmad mengakhiri kisah yang ia sampaikan. Terlihat Fadlan menganggukkan kepala tanda mengerti.

“Jadi..., kamu hanya tinggal memohon saja apa yang kamu inginkan kepada Allah Swt., pasti Allah bakal berikan apa yang kamu pinta!” Kyai Ahmad berkata memberi garansi.



Fadlan sudah mulai yakin, tapi ia masih mengejar dengan satu pertanyaan, “Pak Kyai, saya sudah niat untuk datang dan semakin mengakrabkan diri kepada Allah. Tapi bagaimana caranya ya pak Kyai agar saya bisa memohon nafkah yang cukup kepada Allah?”

Kemudian Pak Kyai membacakan ayat dalam Al Qur’an:



“Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)". QS. 3 : 26-27



“Bacalah ayat itu sesering mungkin dan perbanyak doa memohon nafkah serta rezeki yang halal dari Allah Swt. Yakinlah bahwa Allah Swt akan senantiasa menjamin penghidupanmu dan keluarga!” Kyai Ahmad mengakhiri pembicaraan dengan memberi pesan.



Usai pembicaraan dengan Kyai Ahmad, Fadlan merasa yakin bila dirinya hendak mencari nafkah, maka cara termudah yang dapat ia kerjakan hanyalah dengan ‘Datang dan Memohon kepada Pemilik Nafkah!’

Fadlan telah meyakini hal ini. Bagaimana dengan Anda?





www.kaunee.com